Suara Toleransi dari Bilik Pesantren


                                                        Oleh :
Laela Alfiah

Jawa Timur empat tahun silam.
 Penjara suci, nama itu populer dikalangan santri pada masaku dulu untuk menyebut istilah pesantren. Alasan sederhanaya, karena di lingkungan pesantrenku santri tidak bisa beraktifitas dengan leluasa tanpa aturan, etika dan norma Agama. Sebagai gambaran umumya, setiap hari kami para santri haya tidur kurang lebih 4 jam. Scedule kami dimulai dari jam setengah tiga pagi, kami diwajibkan bangun untuk mengikuti sholat sunnah mujahadah sebanyak dua rakaat yang di akhiri sujud Tadallul, setelah itu kami harus mengantri dibelakang ratusan santri putri untuk mandi, sedangkan kapasitas kamar mandi yang tersedia hanya 21. Terkadang aku memperoleh antrian mandi terakhir, sehinga saat aku baru akan mandi, adzan subuh sudah berkumandang, terpaksa membuatku harus mandi super cepat.
Semua santri sudah duduk bersimpuh di masjid dan serambinya sebelum adzan shubuh terhenti. Sayup-sayup puji-pujian dilantunkan oleh suara-suara emas yang dipilih langsung oleh Romo Yai (sebutan bagi kiyai sepuh), derap langkah Romo Yai menandakan iqomah akan segera di suarakan, dan sholat subuh dilangsungkan dengan khitmat. Dzikir panjang ba’da shubuh berahir pada jam setengah enam pagi, dilanjutkan pengajian Al-Qur’an yang dibagi setiap kelompok. Kurang lebih sepuluh orang dalam setiap kelompoknya, dipandu oleh para ustadzah. setelah pengajian Al-Qur’an selesei para santri kembali ke komplek masing-masing utuk bersiap-siap menuju Sekolah Misriu.
Letak Sekolah Misriu (sekolah semi formal yang hanya mengkaji kitab-kitab kuning) dipondok kami tidak jauh dari komplek. Terlebih Lempengan batuan besar yang ditanam menghubungkan komplek kami dengan sekolah, sehingga hampir setiap pagi irama kaki para santri yang melompat dapat terdengar jelas. Pesantrenku bernuansa tradisional. Terlihat dari kain jarik (samping) yang di pakai sebagai bawahan seragam sekolah diniyah, minang (kerudung berjahit) dan iket(handuk kecil yang di ikatkan di kepala sebagai dalaman kerudung) sebagai penutup kepala, hingga pen tutul (bolpen tradisional tanpa tinta) dan serat (sari pohon pisang yang dikeringkan dengan cara dijemur lalu diberi tinta) digunakan sebagai alat untuk menulis. Meskipun demikian namun seiring berjalannya waktu beberapa properti bergeser kearah modern, seperti kentengan yang dulu difungsikan untuk menandakan waktu masuk dan seleseinya sekolah Misriu, sekarang sudah digantikan dengan bel, Juga beberapa pengajian yang di isi oleh Romo Yai sudah menggunakan rekaman audio, hal tersebut karena faktor bertambahnya usia, sehingga  membuat bliau sering mengalami sakit, terlebih jadwal tausiyah yang padat serta tamu-tamu yang kerap kali membanjiri Ndalem (rumah Romo Yai), membuat waktu mengajar bliau tersita, sehingga rekaman beliau diputar secara continu pada pengajian kitab kuning, hadits  maupun tafsir. Aku pernah mendengar crita dari salah satu temanku yang menjadi Khodim di Ndalem Bliau, dia mengatakan bahwa Romo Yai hampir setiap malam tidak tidur, bliau merekam suaranya saat membacakan serta menjelaskan kitab-kitab yang sudah terjadwal di keesokan hariya. Tujuannya supaya ketika bliau berhalangan hadir, pengajian bisa berjalan dengan rekaman yang diputarkan.
Bayangan sinar matahari hampir sama dengan tinggi benda aslinya, namun udara di pesantrenku tetap sejuk, hal tersebut karena area pesantrenku dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Para santri putri termasuk aku berhamburan dari kelas Misriu, dengan hitungan menit kami semua telah duduk rapih dalam aula untuk mengikuti agenda simaan ma’na kitab tafsir jalalain dan kitab hadis Bukhori Muslim, semaan ini diadakan rutin seriap harinya terkecuali hari jum’at. para santri yang bertugas juga sudah duduk pada baris paling depan, jauh di hadapan mereka sudah duduk dua penguji atau disebut dengan dewan mushokhih. Semua santri akan menyimak saat para petugas membacakan lembaran kitab yang sudah mereka peroleh maknanya dari Romo Yai, dan sesekali para mushokhih meluruskan makna yang dianggap kurang sesuai. Bakhan para petugas kerap kali mendapatkan pertanyaan baik berupa Makna,maksud dari bacaan makna tersebut, hingga pengembangan soal dalam bentuk realitas yang ada.
Setelah semaan usai kami kembali ke komplek masing-masing untuk persiapan jama’ah dhuhur di masjid pondok. Dzikir ba’da jamaah dhuhur sayup-sayup disuarakan hingga ahir ditutup dengan do’a. Satu persatu santri beranjak dari tempat sholatnya, namun sebagian ada yang memilih bersandar di tiang-tiang masjid untuk sekedar membaca Al-Qur’an, murojaah pelajaran, menghafal Nadhoman, menulis matan kitab untuk dimaknai keesokan harinya, dan sekedar beristirahat untuk menghapus lelah sambil menunggu adzan ashar dikumandangkan.
Ba’da jamaah ashar para santri bergegas ke Ndalem Romo Yai dengan membawa kitab shohih bukhori dan bidayatul bidayah di pelukannya. Pengajian wajib shohih bukhori dan bidayatul bidayah yang tidak hanya di ikuti oleh santri putri, namun juga di ikuti oleh santri putra, juga para khodim hingga mereka harus menghentikan aktivitas memasak dan bantu-bantu di Ndalem. Suara” Qola RokhimahuAllahu Taala Wanafaana bihi Wabiulumihi Wabiasrorihi Fidzaroini Amin” mulai terdengar, pertada pengajian akan dimulai. Para santri sudah menyiapkan bolpen tutul dan mangsi yang sudah berisi serat untuk media memaknai kitab. Kurang lebih 1 jaman Romo Yai membacakan ma’na dan menberikan penjelasan dengan luwes dan ditail, setiap menutup pengajian beliau membacakan “ waAllahu A’lam Bishowab” yang artinya adalah dan Allah lebih mengetaui yang sebenar-benarnya. Dengan mengucapkan kalimat tersebut Romo Yai memberikan contoh betapapun banyak keilmuan seseorang tidak ada yang dapat menandingi ilmu Allah, bahkan lebih jauh beliau ingin mengajarkan sifat tawaddu kepada para santri, sehingga akan timbul rasa saling menghargai pemikiran orang lain, karena yang maha tau kebenaran hanya Allah.
Pesantren dalam kacamataku adalah basis utama untuk mencetak pribadi yang tulus cinta akan keilmuan dan berbudi luhur. Sebagai contoh teman-temanku para santri yang sedang dalam kondisi sakit dan tiak mampu bangun untuk mengikuti pengajian di aula, mereka tetap berusaha keras untuk mendengarkan dan ikut memaknai kitab saat pengajian dari kamar-kamar mereka ,karena pengeras suara yang digunakan oleh pesantren terdengar seantero pondok. Mataku bahkan sempat berkaca-kaca saat melihat hirroh mereka terhadap ilmu. Ahlakul karimah juga mereka tunjukan dengan tutur kata yang baik lagi sopan. Romo Yai sering mendawuhkan bahwa “ al-adabu fauqol ilmi” yang maksudnya adalah ada tingkatan yang tinggi di atas ilmu yakni adab. Karena dengan addab berarti mutaalim tersebut telah mengamalkan ilmunya. Yai juga pernah dawuh “ nduk jadilah santri yang Ilmiyah Amaliyah, dan Amaliyah Ilmiyah” yang dimaksudkan adalah ketika kita mempunyai ilmu seyogyanya diamalkan sehingga dapat maslahah untuk orang lain dan lingkungan kita, serta jika kita melakukan sesuatu seharusnya menggunakan ilmu agar tidak terjadi kekeliruan dan perbuatan kita jauh lebih manfaat.
Pesantren juga dapat menjadi solusi bagi kemerosotan mental kaum remaja di Indonesia. Salah satu buktinya adalah program Khitobah yang diadakan setiap malam Jum’at setelah jamaah sholat Isya. Program khitobah ini memberlakukan sistem bergilir. Adapun pembagian petugas terdiri dari petugas MC, Qiroah, tim sholawat, pembaca sari tilawah, pidato, dan pembaca Doa’. Adapun santri-santri yang bertugas merupakan delegasi dari komplek masing-masing ketika ivent kegiatannya Kubro. Akan tetapi jika ivent yang diadakan perkomplek maka peserta di ambil dari delegasi kamar. Aku merasakan dunia pesantren seakan menggambarkan miniatur Negara, pemimpin tertinggi ada pada Kiyai sepuh, adapun dewan Asatidz dan Ustadzah merupakan jajaran Dewan yang siap melaksanakan titah Kiyai, di pesantren juga terdapat kantor pusat dengan struktur pengurus pusat. Tugas dari pengurus pusat mengatur jalanya roda pesantren dari mulai peraturan-peraturan pondok, jadwal kegiatan harian santri, jadwal pengajian, jadwal sekolah Misriu, mengeluarkan ketentuan kitab yang digunakan setelah mendapat persetujuan dari Kiyai Sepuh, serta menghimpun semua data santri yang ada di pesantren. Selain kantor pusat pesantrenku juga memiliki kantor cabang di setiap kompek atau biasa disebut dengan pengurus wilayah, adapun perannya untuk menjembatani pengurus pusat dengan santri di kompleknya masing-masing. Baik dalam menyampaikan informasi, mengatur administrasi, mengatur jadwal kegiatan komplek dll, yang terakhir ada pengurus kamar, meskipun merupakan bagian terkecil dari jajaran kepengurusan akan tetapi memiliki peran yang tak kalah penting. Pengurus kamar terdiri dari ibu kamar sebagai pengatur keuangan harian serta memenuhi kebutuhan anak kamarnya baik dalam segi peralatan, kesehatan, pendidikan, pengajaran ahlaq, serta memberikan bimbingan konseling bagi santri baru yang belum bisa menyesuaikan diri dengan dunia pesantren. Ibu kamar sendiri biasanya diambil dari santri senior yang sudah menjadi ustadzah dengan criteria yang sudah disetujui oleh Kiyai Sepuh. Adapun pengurus kamar lainnya terdiri dari ketua kamar, wakil ketua, bendahara, sekretaris seksi kebersihan dan seksi kesehatan.
Kegiatan lain yang dapat menguatkan metal para santri adalah Tirakat yang hanya dianjurkan untuk santri-santri yang sedang menjalankan hafalah Nadzom Al-Fiyah Ibnu malik. adapun tirakat yang di ikuti berupa pembacaan surat Yasin, Al-Mulk, Al-Waqiah dan dzikir-dzikir khusus yang dilakukan dari jam 1-2 malam dengan posisi berjaga ditempat-tempat yang sudah ditentukan seperti didepan kelas, di musholah, depan kentengan, di depan komplek yang kesemua tempatnya itu dilalui saat acara Haflah Al-Fiyah Ibnu malik dihari H nanti. Hal yang luar biasa adalah godaan saat berjaga malam, selain tempatnya gelap, sepi, dingin, juga beberapa santri ada yang digoda oleh mahluk lain, akan tetapi tidak sampai membahayakan. Tirakat ini bersifat wajib bagi calon wisudawan wisuda wati Al-Fiyah Ibnu malik, tidak perduli kondisi hujan lebat, mati lampu atau banjir sekalipun harus kami lawan. Dari sini Kiyai sepuh mengajarkan para santri agar priatin saat dalam kondisi sulit, semangat perjuangan dalam mengusung kesuksesan serta kesabaran dalam menjalani hidup. Moment ini yang membuat saya dua kali mengalami cedera pundak dan kaki kanan akibat jatuh terpeleset di tangga pondok saat hujan lebat, dimana kondisinya aku sedang berjalan menuju lokasi berjaga. Meskipun demikian aku merasa sangat bangga saat acara haflah sukses.
Pesantrenku juga mewadahi organisasi-organisasi daerah guna menggali potensi kederahannya masing-masing, serta mengenaali permasalahan keagamaan yang ada di daerah guna mendiskusikan solusinya, seperti Madura, Surabaya, Malang, Tegal, Cirebon, Kuningan, Bekasi, Jakarta, Sumatra dll. Adapun program yang di adakan oleh organisasi daerah tidak lepas dari pengajian, marhabanan, Khitobah, Hadroh, Barjanzi, Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jaelani, serta berdiskusi rutin. Mereka juga ikut memberikan warna tersendiri pada ivent pra haflah saat organisasi daerah berkompetisi dalam lomba masak makanan khas daerah, baca brita daerah, Mc bahasa daerah, serta pidato bahasa daerah. Tak jarang saat perlombaan berlangsung para santri tertawa terpingkal-pingkal mendengar orang tegal mengatakan “ anane enyong ning kene arep macakaken brita nganggo koen kabeh o ya’ ” dengan logat medok khas tegal. para santri yang menonton juga dibuat bengong dan geleng-geleng kepala saat mendengarkan petugas berita dari Madura, respon yang disuarakan oleh santri yang menonton “ te sate!!!” disusul tawa jamaah.
Pesantren kami memiliki santri dari berbagai kultur, bahasa, ras dan ragam latar belakang agama yang dianut oleh keluarganya. Akan tetapi kami hidup dengan rukun dan saling mendukung . Bahasa kesatuan yang digunakan di pesantren adalah bahasa Jawa halus atau kromo inggil. Dari sekian banyak kasus yang ada tidak pernah aku mendengar ada perselisihan yang disebabkan oleh perbedaan itu, yang ada hanya pelanggaran-pelanggaran kecil seperti keluar pondok tanpa izin, membawa elektronik, pacaran, tidak mengikuti kegiatan dll dan hukumannya pun cukup ringan seperti mencuci karpet masjid, mengepel, membaca surat-surat tertentu, dan marhabanan dengan menggunakan pengeras suara, hukuman berlaku pada semua santri tanpa terkecuali. Ngomongin masalah hukuman aku sendiri pernah mengalami hukuman yang menurutku cukup berat, dari sejak MTS hobiku membaca buku-buku apa saja yang menurutku menarik, dari mulai fiksi seperti novel karya Andrea Hirata, cerpen milik Gusmus, puisi tasawuf karya Jalaluddin Rumi, komik Conan Edogawa,  bacaan non fiksi seperti artikel, pengetahuan umum seperti psikologi, agama hingga berita dalam media cetak. Suatu ketika aku dengan teman-teman santri seusiaku mengadakan bazaar buku di sekolah MA guna memperingati Disnatalis sekolah, aku sendiri membeli beberapa buku yang berbicara mengenai Aliran-Aliran dalam islam, konflik Suni Syiah, Pluralisme dan buku-buku sejenisnya, mumpung harganya murah menurutku saat itu, sepulang sekolah aku baca salah satu buku itu di kamar, teman-teman sekamarku langsung heboh dan nitip dibelikan beberapa buku di bazaar. Keesokan harinya aku bawa dua tas untuk membaca buku-buku titipan teman-teman, ternyata salah seorang pengurus yang tau aku bawa buku-buku umum mengadu ke pengurus yang lain, ba’da jamaah dhuhur kamarku dirazia pengurus. Tak lama kemudian aku dipanggil ke kantor cabang dan di introgasi. Aku disudut ruangan bersimpuh dengan badan gemetar, semua mata pengurus tertuju padaku, sesekali gebragan tangan keamanan pondok memebuat jantungku hampir copot. Saat itu aku merasa menjadi orang yang paling bersalah. Bagaimana tidak aku belum membela diri tapi pengurus pondok membacakan sederet hukuman yang harus akau jalani selama kurang lebih satu bulan. Dan buku-buku hasil geledahan pengurus dibakar di hadapan ratusan sanatri. Kesalahanku menurut mereka selain aku melanggar peraturan pondok dengan membawa buku diluar kitab yang dikaji di pondok aku juga sebagai profokator santri liberal yang mencuci otak santri-santri lain dengan menyuguhkan bacaan-bacaan yang menyimpang, aku merasa menjadi orang hina saat itu. Santri-santri lain yang merasa taat aturan memandangku negative, bahkan sindiranpun seringkali menghujaniku. Belum satu bulan aku menerima hukuman salah satu pihak penerbit buku yang sedang menjadi patnerku saat itu menelfon ke pondok meminta hukumanku untuk diringankan, entah darimana mereka tau kalo aku kena hukuman.
            Trauma hukuman yang aku terima tidak menyurutkan hobiku untuk membaca, bulan berikutnya aku memilih untuk menyewa buku-buku yang ingin aku baca dari salah satu toko buku disana. Teman-teman santri yang punya hobi sepertiku juga mengikuti jejakku. Kami memilih untuk membaca di sekolah lalu dititipkan ke salah seorang teman kami yang merupakan penduduk asli desa itu, keesokan harinya saat kami ingin baca dia akan membawakan kembali buku-buku kami. Untuk bisa membaca Koran sering kali kami menyiasati dengan cara menyampul buku pelajaran dengan sampul Koran, sehingga saat kami ingin membaca Koran terbaru kami tinggal mengganti sampul buku saja, dan cara ini paling evektif untuk mencari jalan aman dari ancaman pengurus. Meski terkesan nakal namun kami tidak berbuat anarkis, apa yang salah dengan keingin tahuan kami pada pengetahuan. Lagi pula tidak setiap hari kami mengganti sampul bisa satu minggu sekali bahkan kadang dua minggu sekali. Jadi berita yang kami baca sudah lewat masanya.
            Maktabah atau perpustakaan pesantren putri bagi kami terasa kering. Koleksi kitab-kitab didalamnya terkesan angkuh dan kurang bersahabat dengan kalangan penikmat bacaan ringan seperti kami. Kalau bukan karena tugas sekolah Misriu yang mewajibkan merujuk pada kitab-kitab syarah, mungkin kami enggan berlama-lama di perpus. Seperti Tamanni(Fatamorgana) bagi kami mengharapkan buku-buku umum di perpustakaan. Jangankan buku bacaan umum, terjemahan kitab saja tidak dilegalkan untuk dikonsumsi. Bahkan buku diary, kumpulan puisi karya pribadi dan surat-surat juga ikut di razia jika ketahuan. Tujuan dari adanya peraturan ini sebenarnya agar membuat santri-santri fokus dalam mengkaji kitab kuning hingga mendalami syarahnya. Akan tetapi dengan adanya pelarangan tersebut justru membuat para santri yang haus akan keilmuan di luar kajian pesantren memilih untuk melanggar dan mencari kepuasan bacaan di luar.
            Dalam satu tahun sekali pesantrenku mengadakan batsul masail guna melatih para santri untuk lebih bijaksana menyikapi permasalahan yang ada di lingkungan sekitar dengan merujuk pada kitab-kitab kuning dengan jalur musyawaroh. Bukan hanya santri yang terlibat pada forum ini, akan tetapi para asatidz , ustadzat begitu juga para kiyai sepuh ikut berkumpul sebagai musokhih. Rumusan masalah yang diangakat dalam Batsul Masail juga menyesuaikan permasalahan yang sedang in pada masa itu, sehingga para santri dapat memberikan kontribusi berupa penawaran solusi dari hasil Batsul Masail tersebut. Agenda lain yang juga di adakan satu tahun sekali adalah simaan Al-Qur’an. Agenda ini dibuka untuk masyarakat umum, simaan ini didirikan tahun 1986. Adapun agenda simaan ini berisi tawassul kepada para wali Allah, dzikir, kemudian dilanjutkan simaan Al-Qur’an 30 juz. Dalam agenda ini masyarakat dan pesantren bergotong royong mensukseskan acara, banyak masyarakat memberi hasil berkebun seperti sayuran dan Buah-buahan sedangkan pesantren menyediakan tempat, akomodasi, dan lain sebagainya. Yai pernah dawuh “ Agenda selanjutnya adalah pembacaan manaqib syekh Abdul Qadir Al-Jaelani yang juga mellibatkan masyarakat umum. Sebenarnya tidak hanya pada agenda-agenda tertentu saja pesantren mengikut sertakan masyarakat sekitar, akan tetapi banyak santri kalong (penduduk sekitar pesantren yang hanya ikut kegiatan mengaji namun tidak menginap dipondok) yang juga meramaikan kegiatan pesantren.
            Romo yai terkenal sebagai seorang ahli hikmah, sehingga ndalemnya sering kali didatangi tamu-tamu dari berbagai daerah guna meminta solusi dari permasalahan yang mereka hadapi. Profesi dari tamu tersebut juga beragam, dari mulai pejabat pemerintah, pengusaha, pedagang kaki lima, petani, pengangguran, maling, penjudi dan pecandu narkoba yang ingin bertaubat. Agama mereka juga tidak melulu islam, akan tetapi terkadang Kristen, hindu, buda bahkan konghucu. Romo yai sangat ramah pada tamu-tamunya, semua diperlakukan sama. Romo yai juga sering mendawuhkan pada santri-santrinya untuk menjamu semua tamu dengan ramah dan santun.
Kurang lebih empat tahun aku mencium Aroma  Jawa Timur, setelah ahirnya aku kembali ke pesantrenku dulu sewaktu MTS di kota Cirebon. Selain mengajar dipondok aku juga kuliah di IAIN Cirebon. Bekal mondok di jawa timur sangat membantuku dalam memahami ilmu-ilmu alat seperti Nahwu, sorof begitu juga dengan ilmu fiqh. Aku merasa inilah waktu yang pas untukku menghilangkan rasa haus akan ilmu umum serta mengkonfirmasi bacaan-bacaan yang pernah aku baca. Prasangka negative terkait agama, aliran serta pemikiran golongan diluar faham ahlussunah wal jamaah sempat terlintas dalam fikiranku. Aku hanya berkumunikasi dan beraktifitas dengan orang-orang yang aku anggap satufaham, bahkan untuk bisa menginjakan kaki ketempat ibadah selain masjid saja takut rasanya. Takut akan terbawa dalam kelompok mereka, takut akan pandangan negative orang-orang di sekitarku yang mayoritas satu faham, dan takut akan dijauhi oleh teman-teman terdekat karena dianggap melenceng.
Berangkat dari pemikiran itu membuatku kaku, tertutup dan tekstual dalam memberikan penjelasan terkait hukum saat mengajar pada teman-teman santri. Dua tahun lebih aku hidup dibayang-bayangi pemikiran negative yang membebaniku. Tiba saatnya aku berfikir untuk mencoba bergaul dengan para aktivis perempuan di berbagai organisasi, kebetulan teman dekatku yang merupakan putri dari kiyai di pondok Cirebon juga seorang aktivis perempuan Nu. Sesekali dia mengajaku untuk ikut ivent-ivent yang di adakan oleh teman-teman aktivis, awalnya aku canggung, namun lama kelamaan aku merasa nyaman bergaul dengan meraka yang notabennya dipandang negative oleh masyarakat. Perempuan pulang malam, memakai celana, sering menginap serta bergaul dengan laki-laki dalam dunia pesantren memiliki sterotip negative. Akan tetapi pandangan negative tersebut mulai bergeser dalam benakku setelah aku mengetahui rutinitas yang mereka lalukan tidak jauh berbeda dengan mengaji di pondok, aku mulai berfikir bahwa esensi mengaji adalah menimba ilmu, mengharapkan barokah lebih jauhnya mengharapkan ridho Allah, sama halnya dengan kegiatan yang di adakan oleh aktivis social, meraka menguras fikiran untuk memikirkan solusi dari konflik yang menjamur di masyarakat, mereka mengatur strategi untuk menebar nilai-nilai perdamaian ditengah masyarakat yang terbakar amarah untuk saling membinasakan, mereka terjun untuk membela masyarakat yang hasil tanahnya dikeruk habis-habisan oleh investor asing dan limbahnya menyisakan banyak bibit penyakit bagi masyarakat sekitar, meraka memperjuangkan hak-hak para wanita yang bungkam meski terampas kesuciannya, memperjuangkan para istri yang di aniyaya oleh suaminya, mereka memantau serta mengkritisi undang-undang pemerintah yang diskriminan pada minoritas, memperjuangkan hak-hak buruh serta memberikan pendidikan mental, kreativitas serta sekolah-sekolah perdamaian. Semua itu tentu sama nilainya dengan mengaji.
Pada bulan September 2015 lalu aku mengikuti pelatihan dasar HAM dan Hak Kewarga negaraan Bagi Pemuda di Wilayah 3 Cirebon, bertempat di Paseban Cigugur kota kuningan. Acara yang aku ikuti dari tanggal 28-30 september ini kurang lebih memberi pemahaman tentang Hak Asasi Manusia atau disingkat “HAM”. HAM sendiri merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia yang didapatkan sejak lahir dimana secara kodrati HAM sudah melekat dalam diri manusia dan tak ada satupun orang yang berhak mengganggu gugat karena HAM bagian dari anugrah Tuhan, itulah keyakinan yang dimiliki oleh manusia yang sadar bahwa kita semua makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki derajat yang sama dengan manusia yang lainnya sehingga mesti berhak bebas dan memiliki martabat serta hak-hak secara sama. Adapun Pengertian HAM menurut komnas HAM adalah “Hak Asasi manusia mencakup segala bidang kehidupan manusia, baik sipil, politik, maupun ekonomi, sosial dan kebudayaan. Kelima-limanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hak asasi manusia ini bersifat pribadi sehingga dapat memberikan kebebasan semisal untuk bergerak, bepergian, bebas menyatakan pendapat, memiliki hak kebebasan untuk aktif dalam suatu organisasi, dan hak dalam menjalankan perintah Tuhan.
Pemetaan HAM yang aku dengarkan dari pelatihan tersebut meliputi Hak Asasi Pribadi (Personal Rights), Hak Asasi Pribadi adalah hak yang meliputi kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan memeluk agama, kebebasan bergerak, kebabasan dalam untuk aktif setiap organisasi atau perkumpulan dan sebagainya. Hak asasi Politik (Politik Rights) ,yang berhak untuk memilih ataupun dipilih dalam setiap pemilihan. Kemudian hak asasi pilih adalah berhak untuk ikut dalam setiap kegiatan pemerintah, dan berhak membuat serta mengajukan suatu petisi. Selanjutnya Hak Asasi Hukum (Rights Of Legal Equality), hak ini merupakan hak asasi manusia yang memiliki kesamaan dalam sebuah hukuman dan pemerintahan, semisal berhak dalam mendapatkan perilaku yang sama dalam hukum dan pemerintahan. Berikutnya Hak asasi ekonomi (Property Rights), yakni berhubungan dengan perekonomian dimana setiap orang berhak melakukan proses jual beli, berhak dalam mengadakan sebuah perjanjian kontrak, berhak memiliki sesuatu dan pekerjaan yang layak. Hak Asasi Peradilan (Procedural Rights) , hak ini diperlukan dalam sebuah tata cara pengadilan, dimana anda berhak memperoleh persamaan derajat didepan hukum. Terakhir Hak Asasi Sosial Budaya (Social and Culture Rights), hak asasi ini berhubungan dengan kondisi masyarakat dimana setiap manusia berhak untuk memilih dan menentukan pendidikannya nanti, dan berhak untuk memilih kemampuan sesuai dengan bakat dan minatnya.
Materi selanjutnya yang aku dapatkan pada pelatihan ini adalah tentang Hak Kewarga negaraan Bagi Pemuda di Wilayah 3 Cirebon. Pemateri kurang lebih memaparkan Hak Kewarga negaraan secara umum, dimulai dari definisi pengertian dari hak kewarganegaraan yaitu suatu hak yang harus sudah kita dapatkan dari suatu negara tersebut,dan hak tersebut sudah kita dapatkan dari lahir. Seperti Contoh Warga suatu negara berhak mendapatkan pekerjaan yang layak, Warga suatu negara bebas memilih agamanya masing-masing, Warga suatu negara mendapatkan perlindungan hukum, Warga suatu negara berhak mendapatkan pendidikan, Warga suatu negara berhak mendapatkan penghidupan yang layak, Warga suatu negara mempunyai derajat yang sama di mata hukum,  Dan lain-lain. Setelah menyampaikan materi berlanjut ke acara diskusi, peserta yang dihadirkan oleh panitia beragam salah satunya berasal komunitas seperti PMII Kuningan, PMII Cirebon, Kansa, Bayt Al-Hikmah, delegasi pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Komunitas MB2(Melek Bengi-Bengi), Pelita, Mahasiswa Isif, Pemuda Ahmadiyah Manis Lor, IPPNU Kabupaten Cirebon, Kopri Kuningan, Mahasiswa Unswagati Cirebon, Pemuda Sunda Wiwitan, Kopri Cirebon dan santri Buntet Pesantren. Dari hasill diskusi atau sharing antar delegasi tersebut aku dapat memperoleh banyak ilmu. Disisi lain sedikit-demi sedikit pertanyaan yang menghujaniku dari waktu mondok di jawa timur mulai terjawab. Salah satunya mengenai identitas aliran diluar Ahlusunnah Waljamaah, bagaimana cara pandang mereka terhadap agama islam, serta cara mereka beribadah. Aku merasa nyaman dengan mereka karena sikap mereka yang ramah dan terbuka saat berdiskusi. Untuk merelaksasikan suasana diskusi kami sesekali diselingi dengan ice beraking, disini aku juga merasakan kedekatan emosional dengan peserta yang lain. Setelah makan malam selesai kami menginap di rumah penduduk. Penghuni rumah tempatku bermalam terdiri dari sepasang suami istri dan anak perempuannya. Sekilas terlihat biasa-biasa saja, akan tetapi setelah aku berbincang-bincang dengan penghuni rumah tersebut aku menemukan bahwa suami istri tadi merupakan pasangan yang berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Saat dzan maghrib berkumandang kami kebingungan mencari mukena untuk sholat, ibu pemilik rumah melihat kebingungan kami lalu mengatakan “ punten nya neng, barang kali mau sholat mukenanya bisa pinjam di anak ibu, kalo ibu sendiri ga sholat karena beragama Kristen, Tapi suami dan anak ibu muslim neng “. Setelah ucapannya selesei baru kami menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh ibu tadi benar, dibuktikan dari beberapa symbol hiasan dinding yang kami temui menggantung di tembok samping pintu kamar. Disana berjejer patung yesus dan beberapa simbol agama Kristen, sedangkan ditumpukan rak buku kami menemukan kitab Al-Qur’an dan beberapa tumpuk buku-buku bacaan agama islam. Malam harinya kami ditawari makan, beberapa orang dari kami langsung menuju ruang makan, disana sudah disajikan nasi beserta lauknya, awalnya kami merasa ragu saat ingin mengambil lauk daging, akan tetapi ibu pemilik rumah langsung mengetahui keraguan kami , beliau mengatakan “ mangga neng dimakan!!, itu daging sapi sisaan pembagian korban dua hari yang lalu, halal neng!” suara yang membuat kami merasa malu sekaligus kagum melihat cara ibu pemilik rumah menghargai agama kami. Malam semakin larut, dingin menyelimuti bumi cigugur membuat kami terlelap dibalik selimut.
Jum’at pagi kami sudah prepare barang bawaan, karena sore harinya acara pelatihan akan ditutup.dihari terahir ini kami tidak diberikan materi, akan tetapi panitia meminta kami untuk berdialog dengan penduduk sekitar agar kami mengetahui culture dan ragam agama yang mereka anut. Kami menaiki jalan menuju pemakaman, disana kami melihat  berbagai kuburan dengan beragam symbol agama. Satu samalain saling berhadapan. Sekembalinya dari pemakaman kami menuju rumah tempat kami menginap, diperjalanan kami melihat banyak ternak babi di kandang milik warga, kami juga sering kali berpapasan dengan anjing peliharaan yang berkeliaran dijalan. Sampai penginapan kami bertanya banyak hal kepada ibu pemilik rumah, bliau memberikan penjelasan bahwa warga di desa Cigugur memang menganut agama dan kepercayaan yang beragam. Termasuk pemilik ternak babi di dataran atas sana juga agamanya beragam antara suami dan istri. Salah satunya beragama Kristen sedang satunya lagi beragama hindu akan tetapi mereka hidup rukun selama puluhan tahun. Disela-sela pembicaraan kami ibu pemilik rumah meminta izin akan menyiapkan baju untuk suaminya berangkat sholat jum’at, mengingat waktu sudah menunjukan pukul 11.00wib. untuk kedua kalinya kami dibuat terharu oleh penghuni rumah ini. Cara ibu melayani suaminya meski berbeda agama membuat kami merasa malu karena selama ini kami berprasangka negative pada pasangan keluarga lintas agama. Karena kami hanya berbicara dalam kisaran hukum saat memandang pernikahan lintas iman.
Tiba saatnya kami pulang setelah penutupan acara. Aku bersama dengan teman-teman asal Cirebon pulang mengendarai angkutan umum, diperjalanan aku hanya bisa tersenyum mengingat realitas yang aku temui selama tiga hari mengikuti rangkaian acara. Aku merasa semakin percaya pada Allah sebagaimana mereka meyakini tuhan mereka. Pemikiran membela tuhan menurutku hanya mencari sensasi untuk eksistensi kepentingan golongannya masing-masing. Aku mulai berfikir bahwa Tuhan tidak butuh dibela. Yang butuh dibela adalah para manusia yang terdiskriminasi bahkan terancam hidupnya akibat ulah kelompok radikal yang mengatas namakan agama. Mereka yang menggembor-gemborkan membela Tuhan, sedang mereka tuli dengan firman-firman Tuhan yang menyerukan perdamaian, buta karena tidak melihat akibat dari perbuatan anarkis mereka dapat memunculkan trauma panjang pada anak-anak yang notabennya masih belum mengetahui agama, anak muda yang terampas masa belajarnya karena harus mengungsi akibat teror, para orang tua  yang menghabiskan masa hidupnya dengan penderitaan karena memikirkan kesuraman masa depan anak-anaknya, bahkan tuli dari jerit tangis orang-orang yang mereka siksa, raungan para ibu meratapi kematian anak dan suaminya akibat radikalisme agama. Jangankan disebut manusia, julukan binatang saja untuk orang-orang radikal seperti mereka rasanya kurang pantas, melihat binatang tidak akan membunuh sesama jenisnya. Suara teman-teman membuyarkan fikiranku. Rupanya sudah sampai Cirebon.

Langkahku menuju pesantren semakin cepat, mengingat waktu sholat maghrib hampir tiba. Dari jalan raya menuju pesantrenku kurang lebih membutuhkan waktu 20 menit, kendaraan yang tersedia berupa ojek atau beca, akan tetapi aku terbiasa jalan, bukan karena ingin olah raga tapi karena sering kali aku tidak punya cukup uang untuk membayar ongkos angkutannya. Sampai dipondok aku menyusul sholat jamaah maghrib. Ba’da isya rutinitas ku di pesantren adalah mengajar di sekolah diniyah atau penyebutan sekolah semi formal yang hanya mengkaji kitab-kitab kuning. Seperti biasanya aku menyelipkan metode gerak tubuh setelah mendiktekan  makna kitab gundul, untuk mempermudah pemahaman ade-ade santri terhadap ilmu alat yang cukup rumit. Mereka yang umurnya masih remaja kerap kali merasa jenuh dengan metode dictator atau pembicaraan satu arah. Malam itu aku menyempatkan sharing dengan santri-santri di kelas tentang pengalamanku bertemu dengan para pemuda lintas agama dan cara warga cigugur menghargai kami meski berbeda keyakinan. Waktu semakin larut namun kami masih hanyut dalam diskusi. Antusias mereka membuatku optimis akan terciptanya sikap toleran mereka sejak dini, dengan begitu para santri nantinya akan menjadi penangkal radikalisme skala kecilnya bagi diri mereka sendiri, lingkungan sekitar dan skala besarnya untuk Negara Indonesia. Cara yang paling evektive untuk saat itu adalah dengan sharing, karena mereka nantinya akan bercerita dengan teman-teman sebayanya yang ada di asrama-asrama lain.
Salah satu teman dikamus mengingatkanku bahwa sore hari nanti akan ada kajian rutin mingguan Organisasi Ekstra Kampus PMII Rayon An-Nahdloh, kebetuan aku sudah menunggu moment ini untuk mendiskusikan islam radikalisme dan upaya remaja untuk ikut membendung gerakan radikal. Selain aku ada beberapa sahabat yang juga ikut dalam pelatihan di Cigugur. sebelum kami berdiskusi terlebih dahulu kami memulai dengan sharing terkait materi yang kami dapatkan saat pelatihan, sekaligus sebagai intro diskusi islam radikalisme. Kurang lebih 2 jam kami beriskusi di taman kampus. Dalam diskusi tersebut kami banyak meminjam bahasa milik Gus Dur. Salah satunya tentang perkataan Gus Dur “ Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan Ekstrimis memutar balikkannya” ,dari perkataan tersebut tentu Gus Dur ingin mempertegas bahwa Ekstrimis bukanlah anjuran agama manapun, karena didalamnya tidak mengandung nilai-nilai perdamaian sama sekali. Justru dengan Ekstrimis agama menjadi angkuh, kaku, dan menjadi terror bagi pemeluknya.
Perkataan Gusdur yang kami diskusikan selanjutnya “Keindonesiaan adalah ketika agama-agama atau keyakinan yang hidup di Indoneisa berdiri sejajar dan memiliki kontribusi yang sama terhadap negeri” perkataan tersebut membuka mata kami bahwa Indonesia adalah Negara Pancasila bukan Negara islam atau Negara milik agama lain, sehingga sudah sepantasnya pemerintah memberikan pelayanan yang sama rata kepada semua masyarakatnya, begitu sebaliknya masyarakat harusnya bergotong royong mengedepankan nasionalisme guna membangun Indonesia agar menjadi Negara maju. Harus di akui bahwa Indonesia  multi culture, bahasa, ras, agama serta kepercayaan. Lebih jauh perkataan Gusdur  memantapkan diskusi kami “ Tidak penting apa agamamu atau sukumu..kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah Tanya apa agamamu.”, dalam kutipannya gusdur ingin mempertegas bahwa urusan agama adalah urusan  manusia dengan Tuhan, dan tidak berhak bagi agama manapun mengatakan dirinya paling benar, sedang yang lain salah. Karena hanya Tuhan yang berhak menilai kelayakan seorang hamba untuk masuk kedalam surga atau neraka. Kebenaran yang dikonstruksi oleh manusia belum tentu sama persis dengan kebenaran dalam pandangan Tuhan. Sang surya telah menarik cahayanya , menandakan diskusi kami harus segera berakhir. Belakangan aku merasa semakin gemar membicarakan toleransi, baik dengan teman-teman dikampusku, di organisasi juga dipesantren. Lebih dari itu aku menjalin persahabatan dengan teman-teman pemuda dari komunitas Ahmadiyah dari manis lor Kuningan, teman-teman Syi’ah asal Cirebon, Sunda Wiwitan dari Cigugur kuningan dan komunitas lintas iman lainnya. Persahabatan kami dimulai saat aku ingin mengkonfirmmasi bacaan yang aku baca di pondok dulu. Dalam bacaanku Mereka yang dikafir-kafirkan, di anggap sesat dan menistakan agama, setelah aku mengekenal mereka, sesekali mampir ketempat ibadah mereka, berdialog dengan pemuka agama mereka, aku baru tahu bahwa orang-orang yang mengkafirkan adalah orang-orang yang sejatinya belum mengenal mereka atau terlalu fanatik dengan kepercayaan yang mereka anut.
Rabu 28 Oktober 2015 aku kembali mengikuti pelatihan yang di adakan oleh READY, betempat di Hotel Bentani Cirebon. pelatihaan lanjutan  ham dan hak kewarga negaraan ini lebih banyak diisi oleh teman-teman aktivis dari luar kota. Mereka banyak berbagi tentang perlunya membangun Toleransi untuk kerukunan umat beragama di Indonesia. Disana aku dan peserta lainnya tidak banyak menerima materi, akan tetapi kami diajak menyusun strategi untuk membuat kampanye kreatif atau kampanye perdamaian. Kami juga berbagi peran untuk memainkan drama di panggung mini yang sudah disediakan oleh panitia di ruang aula hotel. Aku bersama ke empat temanku yang lain berperan sebagai demonstran, sedangkan lima temanku lainnya ada yang beperan sebagaijam’iyah Ahmadiyah dan beberapa aparat desa, pejabat daerah, serta pihak keamanan. Kami memainkan reka ulang kasus perusuhan rumah ibadah Jamiyah Ahmadiyah di Manis lor Kuningan. Setelah selesei kami dimintai pendapat tentang perasaan selama menjalani peran. Dari pebeberapa teman yang mengungkapkan ada yang mengatakan bahwa kasus seperti ini seharusnya tidak tejadi karena menimbulkan banyak korban. Ada juga yang berpendapat bahwa adanya kasus penyerangan pada masjid Jamiyah Ahmadiyah ini merupakan ulah dari beberapa oknum yang sengaja mengadu domba sesama muslim, dan para warga juga harusnya tidak terprofokasi dengan hasutan oknum tersebut, sehingga tidak mudah menindas kepercayaan lain. Sedangkan, menurutku tidak adanya kesadaran bahwa Negara kita bukan Negara yang dibangun atas dasar satu agama saja akan tetapi Negara yang berlandaskan pancasila dan bineka  Tunggal ika, dengan adanya kesadaran itu tentu tidak akan ada masyarakat yang teprofokasi, bahkan lebih jauh lagi tidak akan ada oknum yang memprofokasi karena mempunyai rasa toleransi, kasih sayang dan tumbuhnya rasa persaudaraan sesama penduduk Indonesia. Yang tak kalah penting panitia mengadakan beberapa games yang pesertanya terdiri dari beberapa delegasi agama islam, Kristen, Jamiyah Ahmadiyah Manis Lor Kuningan, penganut Sunda Wiwitan, Pemuda lintas Agama, PMII Kuningan, Pmii Ciebon, Pesantren Buntet, Pesantren Babakan Ciwaringin, Pesantren Kempek dll, di permainan itu salah satunya mengajak kami untuk berdiri bersama, kemudian panitia mengajukan beberapa pernyataan, dari pernyataan tersebut jika sesuai dengan diri kita masing-masing maka satu langkah kedepan, tapi, jika tidak sesuai maka kami harus melangkah mundur. Salah satu pernyatannya adalah “ agamaku merupan mayoritas di desaku”. Betapa terkejutnya aku saat permainan di ahiri aku berada di posisi paling depan, sedangkan beberapa teman-temanku dari agama dan kepernyataan lain jauh tertinggal dibelakang. Setelah itu kami semua diajak untuk mengetahui maksud dari permainan tadi, salah satunya adalah beberapa orang yang melangkah kedepan dan terus kedepan adalah agama mayoritas dan dalam kondisi hidup yang damai, sedangkan mereka yang terus melangkah kebelakang adalah sodara-sodara kita yang menganut agama minoritas, yang hidup dalam tekanan masyarakat, diskriminasi, dan tidak memperoleh hak selaku warga Negara. Dari sini kami merasa sangat malu dengan teman-teman yang tidak memperoleh apa yang kami peroleh. Rasa toleransi kami mulai tumbuh dan kesadaran untuk merangkul mereka sebagai saudara setanah air mulai tumbuh. Games lain yang disediakan fasilitator adalah bermain ular tangga. Tidak seperti permainan ular tangga yang kami mainkan sewaktu kecil, ular tangga kali ini benar-benar unik menurutku. Perangkat yang kami gunakan saat bermain sama seperti permainan ular tangga pada umumnya, di dalamnya terdiri dari gambar kotak-kotak yang nantinya akan dilewati setelah mengkocok dadu, akan tetapi yang membuat berbeda adalah gambar kotak yang biasanya digunakan bergambar kartoon, binatang, namun kali ini garis kotak-kotak itu berisi banyak bacaan di setiap kotaknya, jadi kalo benda yang kita gunakan berhenti di kotak tersebut maka pemain harus membacakan bacaan yang tertulis di kotak tersebut. Isi bacaannya kurang lebih adalah “ STOP kekerasan antar umat beragama !! mulai bertoleransi untuk menciptakan perdamaian” .dihari ketiga kami diminta untuk mempresentasikan kampanye kreative yang sebelumnya sudah kami buat perkelompok. Ada yang mempresentasikan kampanye creative berupa puisi, karya tulis berupa berita, artikel, film documenter, games tebak gambar via android, dan cetakan sablon. Kebetulan punyaku berupa video cuplikan foto dokumenter yang diputar dengan music.  Tidak terasa sudah tiga hari kami mengikuti pelatihan. Waktunya kami untuk kembali ketempat asal masing-masing.
Seperti sebelumnya aku sharing pengalaman pelatihan pada adik-adik santri di pesantrenku, temna-teman kelas di kampus, teman-teman diskusi kels, PMII, DEMA FUAD, juga pada teman-teman dekatku. Aku ingin mereka juga mendapatkan pelajaran yang aku dapatkan selama pelatihan. Dari pelatihan lanjutan ini aku mulai merasakan perubahan dari cara berfikirku, salah satu contohnya saat aku berdiskusi di kelas ketika mata kuliah berlangsung, kebetulan tema perkulihan berkaitan tentang aliran-aliran dalam islam, yang tadinya pembahasan hanya berkutat pada histori kemunculan syi’ah, sunni,wahabi dll serta banyak membicarakan perbedaan pemikiran serta knfliknya, pelan-pelan ditengaj diskusi aku mulai memasukan nilai-nilai toleransi dengan cara mengkajii  kelebihan yang dimiliki masing-masing aliran, mendiskusikan upaya untuk menjembatani perbedaan aliran agar tetap jalan beriringan dan tidak memicu permusuhan. Aku mencoba mengajak mereka berfikir alangkah indahnya perdamaian yang tercipta dari perbedaan, sepertihalnya pelangi yang terdiri dari bebagai warna. Meski sebagian dari merekaada yang sepakat dengan pemikiranku, namun satu dua diantara mereka ada yang tetap fanatik dengan alirannya dan tidak mau mengalah dengan argumennya bahwa aliran yang berpegang selain dari Al-Qur’an dan Sunnah itu sesat. Aku faham tidak mungkin semua orang sepakat dengan pendapatku, wajar-wajar saja jika ada yang masih demikian, kalo tidak ada justru diskusi tidak akan berjalan dengan asik. Terkadang kita membutuhkan orang-orang seperti mereka yang fanatik, alasannya karena dengan berdiskusi dengan mereka kita bisa mengetahui pandangan-pandangan mereka tekait golongan diluar mereka. Sehingga nantinya dengan sendirinya kita akan menemukan benang merah untuk mengupayakan agar mereka dapat hidup berdampingan dengan yang lain.
Lain halnya perubahan cara berfikirku di pesantren. Perlahan aku merasa ada yang berubah dari caraku memahami teks kitab kuning yang berkaitan dengan fiqh khususnya rukun sholat, juga caraku menjelaskan pemahaman fiqh terhadap santri-santri di pesantrenku. Awalnya aku hanya menjelaskan bahwa gerakan sholat yang benar adalah gerakan sholat yang teksnya diredaksikan dari kitab yang dipelajari di pesantren, seperti kitab safinah, sulamun taufiq, mabadi fiqhiyah, dll. Dimana dijelaskan didalamnya menjelaskan kunut harus ada pada rokaat kedua pada sholat shubuh, jika tidak dilakukan maka harus sujud sahwi sebelum salam pada rokaat terakhir. dan gerakan menegakkan jari telunjuk pada saat tahiyat awal dan akhir harus berada pada ujung  lafadz “ asyhadualla ilaha illaAllah” . sekarang aku mulai menjelaskan bahwa gerakan sholat pada dasarnya beragam adapun yang kita pelajari di pesantren ini adalah yang kita yakini benar, namun diluar sana banyak gerakan sholat yang berbeda dengan kita, dan hal tersebut tidak boleh kita salahkan selagi mereka mempunyai dadilnya sendiri, karena hadits yang menjelaskan tentang gerakan sholat sifatnya adalah umum mengacu pada ucapan Nabi “ Shollu kama ro’aitumuni Usholli” sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat. Dari hadis tersebut tejadi banyak versi dalam beberapa gerakan sholat, salah satunya takbirotul ihrom ada yang mengangkat tangan ada juga yang tidak, kunut pada rokaat kedua sholat subuh, mengangkat jari telunjuk pada saat tahiyat awal dan akhir, dan ada juga yang mengangkat jari telunjuk kemudian memutarkan jari telunjuk ke segala arah dan lain sebagainya.
Agenda Ready berikutnya adalah Live in di Cigugur Kuningan dari tanggal tiga sampai lima oktober 2015. Agenda kali ini tidak ada materi seperti sebelumnya, akan tetapi lebih pada berbaur dengan masyarakat guna mengetahui rutinitas, kebudayaan, tradisi, ragam Agama serta kepercayaan masyarakat Cigugur. Pagi hari kami berkenalan dengan warga yang sedang berkumpul di emperan rumah, aku melihat merka merakit gunungan dari bambu yang di isi dengan hasil panen seperti padi, hasil kebun seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian seperti kacang panjang, kancang tanah dan lain sebagainya.
Aku membuka obrolan ringan dengan beberapa ibu-ibu, setelah mereka bercerita ternyata gunungan yang mereka buat itu sebagai persiapan acara serean tahun atau hari raya bagi penganut Sunda Wiwitan. beberapa warga lain juga melakukan persiapan seperti membuat janur, merangkai bunga, membersihkan kendi, mempersiapkan tarian-tarian tradisional sunda dan lain sebagainya. Mereka semua nantinya akan berkumpul di Paseban untuk menyerahkan persiapan mereka. Satuhal yang menurutku unik adalah warga yang ikut berkumpul untuk melakukan persiapan bukan hanya dari warga yang menganut Sunda Wiwitan saja, akan tetapi banyak dari mereka merupakan Muslim dan kristian. Ketertarikanku akan realitas ini membuatku bertanya alasan mereka mau membantu perayaan hari raya Sunda Wiwitan. Dengan santai mereka menjawab bahwa bergotong royong membantu persiapan Hari Raya Sunda Wiwitan hampir setiap tahun mereka lakukan, begitu sebaliknya masyarakat Sunda Wiwitan juga membantu persiapan acara hari raya agama lain.  Alasanya karena mereka menganggap bahwa perbedaan bukan halangan mereka untuk saling bergotong royong dan bertoleransi sesama umat beragama.
Sore hari kami di ajak ke Paseban oleh seorang bapak yang merupakan abdi di Paseban. Disana kami melihat banyak kendaraan parkir di area paseban dengan berbagai jenis plat luar kota. Setelah kami tanyakan ternyata mobil-mobil itu merupakan kendaraan dari masyarakat penganut sunda wiwitan yang berasal dari seluruh Indonesia. Mereka berdatangan untuk merayakan Serean Tahun. Kami berjalan kea rah pemandian yang berada di tengah taman Paseban. Kami melihat beberapa wanita sedang menaburi bungan dan sebagian menghias tangga menuju pemandian. Wanita-wanita tadi mengenakan pakaian tradisional yakni samping batik yang diputarkan di tubuh dan konde yang disematkan di rambut wanita-wanita tadi.
Beranjak menuju prasmanan, aku bertemu dengan salah seorang penganut Sunda Wiwitan yang berasal dari kota garut, usianya sekitar 40 tahun. Setelah aku mengobrol dengan beliau tenyata meskipun bliau asal garut akan tetapi domisili di Amerika, dan beliau sengaja datang  ke Cigugur hanya untuk merayakan Serean tahun, setelah itu kembali ke Amerika lagi. Dari beliau aku mendapatkan informasi terkait Sunda wiwitan yang berdomisili di Negri paman syam itu. Aku mendengar bliau mengatakan bahwa penganut sunda wiwitan di Amerika sangat sedikit, bahkan bisa dihitung jari, akan tetapi semangat mereka dalam melebarkan sayap dalam mengajarkan Sunda wiwitan sangat tinggi. Salah satunya dengan cara membuka perguruan silat khas Indonesia, disisi ilmu silat mereka turunkan kepada para muridnya, ajaran Sunda Wiwitan juga mereka ajarkan. Kini padepokan tempat mereka melatih silat sudah dipenuhi oleh para pengikutnya. Beliau juga menceritakan sedikitnya ajaran Sunda Wiwitan kepadaku dan teman-teman. Beliau mengatakan bahwa Prasmana yang dihidangkan tadi bukan semata-mata tanpa maksud, akan tetapi dari mulai nasi, lauk pauk serta lalapan yang disediakan itu semuanya merupakan perwujudan Gusti, jadi ketika mau memakan hendaknya permisi terlebih dahulu karena dari nasi dan lauk pauk itu manusia tetap hidup dengan ruh yang diberikan dari apa yang dimakan tadi, begitu beliau menjelaskan pada kami. Selain itu beliau juga menjelaskan tata cara mereka beribadah dan masih banyak yang lainnya.
Malam harinya kami kembali ke rumah warga yang menjadi tempat menginap kami. Di rumah itu kami melanjutkan diskusi tentang apa yang kami temukan seharian tadi. Serta membuat beberapa catatan kecil untuk dibicarakan keforum diskusi lanjutan saat kami kembali ke daerah masing-masing.
Pagi harinya kami harus bangun lebih awal dari biasanya, alasannya karena hari itu merupakan puncak acara Serean tahun. Rangkaian acara pada pagi hari itu adalah arak-arakan masal, dimana kita semua menaiki andong dan di arak keliling Cigugur. Di bagian depan ada beberapa mobil bak tebuka dengan memuat alat-alat musik tradisional dan di mainkan oleh beberapa pemuda, ada juga yang berisi sejumlah gadis yang didandani ayu dengan tubuh dibalut samping batik dan konde bunga melati. Arak-arakan ini dipimpin langsung oleh Romo Anom yang merupakan tokoh panutan Masyarakay Sunda Wiwitan. disana Aku melihat antusiasme para warga yang berdiri di tepi jalan sambil bertepuk tangan. Beberapa warga juga ada yang menaiki motor lengkap dengan pakaian adat sunda. Para pemuda dan anak-anak juga ikut meramaikan acara dengan membawa janur kuning dan memakai ikat kepala khas sunda.
Sore hari kami sudah kembali ke Paseban. Untuk menunggu persiapan acara puncak pertunjukan seni yang akan digelar malam harinya. Ba’da Maghrib kami sudah berkumpul di pelataran depan Cagar budaya Paseban. Semua warga Cigugur juga ikut berkumpul, tidak perduli dari Islam, Kristen, Hindu, Buda, Ahmadiyah dan Syi’ah, mereka semua bersorak meramaikan acara. Beberapa penari keluar dari paseban menuju pelataran yang sudah dikelilingi warga. Para gadis yang akan menari tersebut membawa kendi atau buyung yang dihimpit di bawah ketiak tangan kananya, sedangkan jari tangan kirinya menjapit selendang yang di ikat pada perutnya, nama tarian tersebut adalah tari Buyung.
Permaianan lampu warna warni membuat kami hanyut dalam suasana klasik ala tahun tujuh puluan. Kembali beberapa penari keluar dari pintu Paseban, kali ini layaknya para srikandi mereka membawa seperangkat alat untuk memanah. Para srikandi melingkar mengelilingi tugu di depan area Paseban. Mereka berlenggak lenggok mengikuti irama yang keluar dari soundsistem di sudut Paseban. Beberapa saat setelah itu acara inti yang bertempat di panggung utama mulai digelar. Tim keamanan mulai bergerak mengondisikan area pelataran depan Paseban, yang juga merupakan tempat berkumpulnya penonton di area depan Panggung.
Malam mulai larut, lampu-lampu penerang satu persatu mulai dimatikan dan diganti dengan lampu warna warni penghias panggung. Kursi-kursi tamu undangan sudah mulai dipadati, sebagian dari keluarga Paseban juga sudah mulai telihat duduk bersama para tamu undangan. Aku melihat ada bapak bupati garut Dedi Mulyadi sedang berbincang-bincang dengan pimpinanan Sunda Wiwitan. sesaat setelah itu bapak Dedi Mulyati naik ke atas panggung untuk mengisi acara. Bliau tenyata menjadi dalang dari acara Wayang orang berbahasa sunda asli. Penonton merespon dengan antusias, bahkan banyak yang tetawa sangat keras saat adegan lucu wayang orang berlangsung. Dari derama wayang orang yang aku tangkap di dalamnya kurang lebih menceritakan kehebatan prabu siliwangi, sunda wiwitan yang merupakan ……………
Sebulan setelah itu aku dan temanku ditugaskan untuk meneliti masyarakat cigugur. Kami berdua mencari tahu tentang pemenuhan hak-hak kewarganegaraan yang belum tepenuhi di masyarakat sunda wiwitan, bentuk-bentuk diskriminasi kelompok lain pada sunda wiwitan, serta lembaga apa saja yang sudah membantu dalam upaya pemenuhan hak-hak kewarganegaraan. Dari data lapangan yang kami temukan, banyak dari hak-hak kewarga negaraan yang belum tepenuhi, diantaranya hak untuk mendapatkan pencatatan sipil seperti KTP, Kartu Nikah, dan Akte Kelahiran. Dalam hal ini aku mewawancarai salah seorang warga sunda Wiwitan, dia mengatakan bahwa salah seorang warga Sunda wiwitan memang ada yang mendapatkan akte kelahiran, akan tetapi isinya hanya mencantumkan nama ibu tanpa mencantumkan nama Ayah dari anak yang di lahirkan. Permasalahan KTP juga di ungkapkan oleh mereka, masalahnya terletak pada pencantuman kolom agama pada KTP, sebagian kolom agama di isi dengan agama ISLAM namun juga ada yang kosong  tanpa identitas agama. Berbeda lagi dengan akte nikah, beberapa warga yang ingin bisa memiliki akte nikah maka harus menikah keluar Cigugur, karena pernikahan yang dibolehkan untuk penganut Sunda Wiwitan harus menikah secara adat tidak boleh menikah secara Negara mengikuti peraturan pemerintah setempat. Dari hal demikian maka banyak masyarakat Sunda wiwitan yang menikah di luar kota. Bahkan lebih jauh beberapa ada yang memilik untuk pindah Negara alasannya hanya di Indonesia yang pemerintahnya mengatur permasalahan agama, hingga mendirikan kementrian agama.
Penelitian berjalan selama kurang lebih dua minggu, poin yang kami dapatkan saat meneliti di masyarakat Sunda wiwitan di Cigugur adalah permasalahan pencatatan sipil, surat pengesahan rumah ibadah atau paseban yang selama ini diatas namakan cagar budaya, dan pernikahan yang hanya boleh dilakukan secara adat. Kesemua permasalahan itu sering kali dimusyawarohkan solusinya oleh para pemuka agama sunda wiwitan, akan tetapi tetap belum ditemukan solusi kongkritnya hingga saat ini. Dalam hal ini kami meneliti sekaligus mencari sumber permasalahan yang menurut para masyarakat merupakan ulah beberapa oknum pemerintah. Kami mendatangi kepala desa Cigugur dan mencari beberapa berkas sebagai bukti, setelah kami mendapatkan bukti-bukti itu kami serahkan kepada lembaga FAHMINA untuk ditindak lanjuti.
Sepulang dari penelitian tersebut aku merasa memiliki beban moral selaku umat muslim, bagaimana tidak, islam mengajarkan kita untuk perduli terhadap sesama mahluk ciptaan Allah, melalui Nabi Muhammad, Allah membukakan mataku bahwa sifat toleransi tidak memandang suku, ras  dan agama. Dulu Rasulullah menunjukan rasa toleransi terhadap pemeluk agama Yahudi, Nasrani, para penyembah Berhala yang bertempat tinggal di Madinah dengan mengeluarkan Piagam Madinah yang berisi “bagi kaum yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslim agama mereka . kebebasan ini juga belaku pada sekutu-sekutu mereka masing-masing, kecuali bagi orang yang bebuat zalim dan jahat, hukumannya hanya akan menimpa diri dan keluarganya. ” dari isi Piagam Madinah tersebut Rasulullah menunjukan betapapun Islam bekuasa di Madinah saat itu, akan tetapi tetap menghargai agama dan kepercayaan agama lain, dengan begitu ajaran Islam yang Rohmatal lil alamin dapat dirasakan oleh semua ummat.
Kembali aku dipanggil untuk menyeleseikan program membuat kampanye creative oleh READY. Awalnya aku dan patnerku dari delegasi pesantren mengalami dilema dalam menentukan kampanye creative apa yang dapat berpengaruh kepada para santri minimalnya lebih besarnya masyarakat luas agar menumbuhkan Toleransi antar umat beragama.
30 sampai 31 April 2016, aku beserta teman-teman dari IPPNU pusat yang betempat  di Jakarta mengadakan pelatihan  Film Dokumenter dalam rangka menggali ide pembuatan Film Dokumenter, belajar cara menyuting serta cara mengedite hasil rekaman video film yang akan dijadikan media kampanye creative READY. Yang lebih substansial sebenarnya teletak pada pesan perdamaian yang akan disampaikan pada film dokumente tersebut, agar para penonton dapat melihat secara eksplisit pesan perdamaian tersebut dengan tanpa merasa jenuh saat menonton. Kami juga membicarakan tentang durasi film documenter yang harus disiapkan saat video tesebut  di upload di media youtupe. Sasaran dari kampanye creative berupa film dokumente yang kami buat sebenarnya dalah anak usia sekolah hingga perguruan tinggi, karena pada fase itulah pararemaja dan pemuda mempunyai emosional yang cenderung tidak stabil, sehingga mudah teprofokasi oleh kelompok-kelompok radikal agama, oleh karena itu kami befikir agar media intenet tidak hanya dipenuhi oleh informasi-informasi yang  profokatif dengan mengatas namakan agama, sehingga memancing emosi masyarakat khusunya para pemuda dan remaja, akan tetapi juga media akan dibanjiri dengan informasi seputar pesan perdamaian.
Sepulang dari pelatihan film dokumenter tesebut aku dan temanku mulai membuat naskah dan alur critanya, kami memutuskan untuk membuat sebuah film dengan mengangkat barongsai dan liong yang identik dengan agama konghucu. Mula-mula kami membuat janji temu dengan pemuka agama Konghucu untuk meminta izin. Setelah di izinkan kami  mendiskusikan ide pembuatan Film Dokumenter yang akan kami buat, sekaligus meminta pandangan beliau tekait film kami. Beberapa gambar kami ambil saat wawancara dengan beliau. Bahkan saat diskusi juga sempat kami rekam dalam bentuk video. Untuk bisa bertemu dengan pemuka agama Konghucu kami karus berkali-kali menunggu di Kelenteng (tempat ibadah agama Konghucu), hingga kemalaman , setelah kesekian kalinya baru kami bisa bertemu dan berdiskusi.
Sehari setelah dari kelenteng kami kembali membuat janji temu dengan pimpinan barongsai dan Liong di  daerah Cirebon. Sama seperti sebelumnya kami meminta izin untuk membuat film, setelah itu kami mendiskusikan lokasi, pemeran, dan waktu untuk shooting nanti.. Pimpinan barongsai dan liong memberi saran  tempat yang akan digunakan sebagai lokasi shooting ada di IKMI Suaka Bahari, tempat dimana para pemain barongsai dan Liong latihan. Waktu shooting senin sore menyesuaikan waktu latihan barongsai dan liong, serta pemeran dalam film nanti di bintangi oleh para pemain barongsai, dua diantara puluhan pemain merupakan wanita, dan salah satu di antara keduanya itulah yang menarik perhatian kami, selain dia seorang muslimah yang behijab, dia juga memahami arti penting melestarikan budaya dan toleransi antar umat beragama, Nama gadis tersebut adalah Neysya. Kurang lebih tiga hari kami mengambil rekaman video berisi aktifitas latihan barongsai, keseharian Neysya sebagai muslimah yang taat beragama. Kami mengambil gambar wanita tersebut sholat setelah selesei latihan baringsai, dan teman-temannya yang beragama hindu, buda, konghucu dan Kristen juga sering kali mengingatkan Neysya untuk sholat di saat selesei latihan. Selain itu kami juga mewawancarai orang tua Neysya, teman-teman Neysya, dan tokoh agama dari Islam dan Konghucu. Dari hasil wawancara mereka semua mengapresiasi semangat Neysya dalam melestarikan budaya Barongsai dan liong. Meskipun Neysya harus sering kali ikut serta memainkan barongsai pada ivent-ivent hari besar konghucu di Kelenteng, namun menurut para tokoh agama hal tersebut tidak menjadi permasalahan karena ikut mengisi acara bukan berarti ikut merayakan serta meyakini kepercayaan agama lain.
Setelah proses editing film documenter selesei kami baru memberi judul “ Tarian Naga symbol perdamaian antar umat beragama” . beberapa minggu setelah itu kami kembali diberi tugas oleh READY untuk mempresentasikan film tersebut pada 100 orang peserta jambore anak muda se wilayah tiga kuningan, yang bertempat di bumi perkemahan Sidomba kota kuningan,. Peserta pada jambore beragam, Ada yang merupakan delegasi dari pondok pesantren buntet, babakan Ciwaringin, kempek, ada yang dari komunitas PELITA, PMII, IPPNU, Alang-Alang, Pemuda Ahmadiyah, pemuda Syi’ah, Pemuda Sunda Wiwitan, Pemuda Kristen, Pemuda Hindu dan lain-lain. Begitu juga dengan para pemateri yang mengisi acara didatangkan dari beberapa agama, mereka mengkampanyekan nilai-nilai perdamaian anatar umat beragama., harapannya dari seratus pemuda yang hadir bisa menjadi agen penyebar perdamaian yang nantinya akan disampaikan kepada teman-temannya masing-masing, selain itu pemuda adalah harapan bangsa, jika pemudanya baik maka Negara kedepannya akan lebih baik. Tim yang akan presentasi dengan hasil kampanye kreatif yang berbeda-beda ada 6 tim. Adapun pembagiannya disesuaikan dengan denah posko yang sudah disiapkan oleh panitia. tim pertama akan mempresentasikan hasil kampanye krative beupa video musikalisasi puisi karinding, tim yang kedua sablon kaos, tim yang ke empat grafity oleh pemuda sunda wiwitan, tim ke empat berupa video sholawat perdamaian, tim kelima beupa Game tebak gambar perdamaian yang dapat di download melalui playstore, tim keenam film documenter dengan judultarisn naga symbol perdamaian antar umat beragama oleh aku dan teman pondokku yang merupakan delegasi dari buntet pesantren Cirebon. Para peserta dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok ditemani tutor untuk menyaksikan kampanye kreative di posko-posko tempat tim kampanye creative, disana mereka mendengarkan, berinteraksi dengan Tanya jawab dan terakhir memberi nilai untuk setiap kampanye creative yang mereka lihat, cara demikian mereka lakukan di setiap posko dengan bergilir. Posko tempatku cukup nyaman meskipun berada sedikit jauh di atas dari tenda tempat kami bekumpul, dan banyak nyamuk karena tekesan gelap. Akan tetapi saung tebuka dengan kondisi gelap akibat dedaunan justru membantu kami dalam memutarkan film documenter, sehingga dapat jelas ditonton.
Malam harinya panitia berencana mengumumkan hasil penilaian kampanye kretaive terbaik dalam program READY, akan tetapi cuaca tidak mendukung, semua tempat terendam air termasuk tenda karena hujan lebat. Tenda pengungsian yang tadinya merupakan altenative kami untuk belindung ternyata ikut terendam dikarenakan hujan yang mengguyur bukan hanya lebat, akan tetapi juga disertai ingin yang sangat kencang. Kami semua tepaksa mengungsi di masjid Sidomba yang berada di bawah. Dingin bercampur hangat saat aku mampu menggambarkan suasana hati kala itu, bagaimana tidak dingin karena cuaca dan hangat karena rasa persaudaraan semua peserta dan  panitia yang timbul akibat saling menolong satu sama-lain. Kami secara estafet mengoper barang-barang ke tempat yang aman dekat tenda, setelah itu dengan belindung dibawah tutup kepala karpet plastik kami bersama-sama merayap menuju masjid.
Pagi harinya kami menampilkan aksi terakhir yakni panggung hiburan yang beisi pertunjukan seni dari berbagai agama dan budaya. Meski cuaca masih gerimis, tidak menyurutkan tamu undangan dari luar daerah untuk menyaksikannya. Hasil penilaian yang kami nantikan dari semalam akhirnya diumumkan juga pada siang harinya. Yang mana ketiga dari pemenang itu nantinya akan mempresentasikan kembali pada jambore anak muda Nasional yang akan di adakan selama empat hari dari tanggal dua puluh satu sampai dua puluh empat September dua ribu enam belas di kawasan bumi perkemahan Sentul.
Kegiatan jambore nasional diberi nama kemah pemuda Nasional Aktive Peace Camp National Youth Camp (AKTIPIS Kamp). Peserta pada acara kali ini berasal dari komunitas dan lembaga yang lebih banyak dari jambore sebelumnya, karena tidak hanya berasal dari wilayah tiga Cirebon saja, akan tetapi ada dari tasik, bandung, garut dan wilayah sekitarnya. Pada hari pertama kami diberi briefing oleh panitia, isi briefing tersebut sekaligus menjawab latar belakang diadakannya kegiatan ini, s tujuan yang akan dicapai dan output kedepannya, fasilitator menyampaikan bahwa “ indonesia dikenal dan dibangun dengan keragaman suku, budaya, etnis, agama, aliran kepercayaan, bahasa, pemikiran dan lain sebagainya. Keragaman inilah yang memperkaya dan menjadi kekuatan perjuangan Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan, meraih kedaulatan, dan mengupayakan kesejahteraan. Dalam mengupayakan kemerdekaan Indonesia, peran pemuda tecatat dalam sejarah bangsa sebagai hal yang sangat penting danmendasar. Pemuda menjadi agen perdamaian dan pemersatu bangsa melalui sumpah pemuda 1928. Pemuda menjadi actor penting dalam memperkuat kesatuan dan keutuhan bangsa, serta mengelola perdamaian dan keragaman. Namun sangat disayangkan dalam beberapa peristiwa intoleransi belakangan ini, pemuda jugalah yang menjadi actor digaris depan. Pemuda memilih dalam kekerasan untuk menyikapi perbedaan. Oleh karenanya penting bagi kita bersama untuk membangun kembali generasi muda yang toleran dan mengedepankan dialog. Pemuda yang creative, berani, anti akan kekerasan dan mencintai keragaman bangsa. Beberapa lembaga pengamat KBB mengatakan selama beberapa tahun berturut-turut samapai 2015, jawa barat merupakan daerah yang tingkat intoleransi tehadap keragaman agama dan keyakinan paling tinggi se Nasional. Jelas kondisi ini dapat diubah apabila ada sekelompok orang yang secara sadar dibumi Jawa Barat. Siapakah mereka yang bepotensi untuk mengerjakannya? Pemuda. Kemah Pemuda Nasional 2016 yang bertemakan: Aktive Peace Camp (AKTIPIS KAMP), lahir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Cita-cita lahirnya para pemuda perdamaian antar umat beragam di Jawa Barat yang mampu membangun kesadaran mengenai kebebasan beragama atau berkeyakinan melalui advokasi tehadap pemenuhan hak-hak yang dimiliki oleh kelompok minoritas agama atau keyakinan, sehingga kelompok tersebut dapat menikmati kesetaraan hak dimata hokum itulah yang menggerakkan kami menyelenggarakan kegiatan ini. Nasional Active Peace Camp merupakan kesatuan dari rangkaian kegiatan sebelumnya berupa training READY di masing-masing wilayah, kampanye creative, serta kemah pemuda perwilayah. Berdasarkan cita-cita tersebut, dalam Camp Nasional Active Peace yang di ikuti enam puluh pemuda se jawa barat yakni para pemuda perdamaian yang merupakan alumni pelatihan respect and dialog dan camp pemuda wilayah, para pemuda diajak untuk membangun kesadarannya tentang kemerdekaan beragama dan berkeyakinan (KBB) dan hak non diskriminasi dimata umum, meningkatkan keterampilannya dalam melakukan advokasi melalui kampanye creative sebagai agen perdamaian active (active peace agen) dimasing-masing wilayah, dan membangun jejaring antar pemuda serta komunitas-komunitas di jawa barat untuk mendorong dilakukannya kampanye creative dan advokasi bersama. Selama empat hari kedepan teman-teman dapat belajar dan memperkaya pengetahuan serta pengalaman dengan individu atau kelompok dan komunitas pemuda yang kami undang, seperti seniman-seniman film, gambar, lagu atau music, video, ahli komunikasi, ahli hokum, peneliti,  ahli kampanye kreative, dan lain sebagainya. Selain itu teman-teman juga akan mendapatkan masukan berharga dari para ahli untuk konsep kampanye creative yang telah teman-teman siapkan denganmatang. Penilaian dan penjurian atas konsep kampanye creative teman-teman juga akan dilakukan oleh para juri dan akan dipilih satu tebaik dari tiap wilayah. Konsep kampanye creative yang menang akan menjadi kampanye creative yang dikejakan bersama oleh teman-teman dimasing-masing wilayah, dan akan memperoleh dukungan dana untuk kampanye creative. Kami beharap teman-teman bisa belajar, bersenang-senag, berkreasi, dan berjejaring dalam dan setelah kegiatan ini. Kami percaya teman-teman adalah pemuda perdamaian di bumi Jawa Barat dan bagi Indonesia. Salam AKTIPIS CAMP!”
Setelah fasilitator menyampaikan latar belakang, tujuan dan harapan dari kegiatan  AKTIPIS CAMP dilanjut perkenalan antar peserta dengan metode yang kucup unik menurutku, setiap peserta diminta untuk menggambar symbol yang identik ada pada diri mereka masing-masing, jika sudah selesei gambar yang mereka buat ditukar dengan teman disebelah kanannnya dan temannya dan menjelaskan, setelah itu teman yg diberi gambar dan penjelasan harus mempresentasikan satu-persatu dihadapan forum. Dengan metode demikian peserta diharapkan mampu untuk lebih aktif berbicara. Selain itu, pesan yang ingin disampaikan melalui metede perkenalan tersebut adalah pada saat ingin menggali data dilapangan, hendaknya kita mencari sumber yang lebih autentik yakni bertanya langsung pada orang yang bersangkutan, sehingga data yang didapatkan lebih bisa dipertanggung jawabkan. Sharing menjadi penutup acara di hari pertama, setelah itu kami kembali ketenda untuk menata barang bawaan kami.
Pagi hari kami harus bangun jam lima untuk melaksanakan sholat subuh bagi kami yang beragama islam dan joging bagi teman-teman yang beragama diluar islam. Setelah kami selesei mandi dan sarapan kami kembali ke aula terbuka untuk mengikuti materi pertama dengan tema akses atas keadilan, namun sebelumnya beberapa dari kami diminta untuk meriview kegiatan hari pertama. Akses atas keadilan (Access to justice) merupakan hak setiap warga Negara tanpa membedakan strata social. Dalam hal bantuan hukum bagi masyarakat tidak mampu, baik melalui anggaran yang dikelola departemen hukum dan hak asasi manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam undang-undang nomor 16 tahun 2011 tentang bantuan hukum, maupun anggaran yang dikelola oleh Mahkamah Agung melalui lembaga peradilan yang ada dibawahnya, baik peradilan umum, peradilan agama, maupun peradilan tata usaha Negara. Hal tersebut bisa dilihat dalam peraturan Mahmkamah Agung RI Nomor 1 tahun 2014. Bantuan hukum tersebut bukanlah usaha belas kasihan Negara terhadap kaum miskin ataupun bantuan kemanusiaan, akan tetapi merupakan hak dari setiap warga Negara untuk memperoleh keadilan , dengan tidak memandang jabatan dan kekayaan. Dikaitkan dengan keragaman agaman di Indonesia tentunya akses atas keadilan tentu sangat berperan jika salah satu dari agama atau kepercayaan di Negara kita mengalami diskriminasi, ancaman atau penganiyayaan dalam kehidupan beragamanya maka sudah seharusnya pemerintah memberikah hak keadilan yang mereka seharusnya peroleh sebagai warga Negara Indonesia. Mereka bukan pendatang yang masuk Negara kita secara illegal akan tetapi mereka diperlakukan seolah mereka penyusup yang akan memporak porandakan negri ini. Tidak cukupkah mereka di pukuli masa, di seret hingga dipertontonkan keluarganya saat di bantai habis-habisan oleh sekelompok penyerang yang mengatas namakan agama. Mereka adalah penduduk pribumi yang seharusnya dilindungi, dijamin hak ketentraman hidupnya. Anak-anak mereka tidak bisa sekolah karena di buli oleh teman-teman bahkan guru mereka, sebagian rumah ibadah mereka dilempari batu, dan terancam dirobohkan. Menutup mata dan berlaga seolah tidak terjadi apa-apa adalah sikap apatis yang seing kali menjamur di masyarakat. Mungkin pemikiran yang muncul adalah mencari aman dengan bepihak mada kelompok mayoritas dan yang penting itu tidak terjadi pada salah satu keluarga mereka para masyarakat. Padahal disadari atau tidak mereka adalah bagian dari kita keluarga besar masyarakat Indonesia.
Terik matahari berada tepat di atas kepala, waktunya ISHOMA dan kunjungan ke both AKTIPIS. Setelah selesei istirahat berlanjut ke aagenda selanjutnya yaitu peran jarigan dalam resolusi konflik. Dalam sesi kali ini, kami berdiskusi tentang  peran jaringan, maksudnya adalah ketika kita akan melakukan advokasi kasus dilapangan tekait ketidak adilan yang dialami kelompok agama atau kepercayaan tetentu strategi apa yang harus kita lakukan dan seberapa besar pengaruh jaringan dalam menuntaskan kasus tersebut. Advokasi tebagi atas dua aspek, pertama advokasi di luar pengadilan adapun strategi penyelesaian yang diperlukan antara lain menggunakan cara Mediasi, bermusyawaroh dengan adanya mediator/penengah. Mediator berhak mengeluarkan penyeleseian. Apabila ada pihak yang tidak setuju maka penyeleseian itu tidak belaku. Kedua, dengan cara Negosiasi, tawar menawar antara dua pihak. Cara ketiga adalah Lobi, upaya menyamakan kepentingan melalui pertemuan-pertemuan tidak resmi. Cara ke empat kampanye, mencoba mempengaruhi pendapat/ pandangan masyarakat melalui berbagai media. Missal: spanduk, stiker, selebaran dan lain-lain. Cara kelima Pengorganisiran, mengumpulkan, menumbuhkan kesadaran agar suatu kelompok masyarakat mau bergerak (melakukan advokasi). Cara keenam Advokasi kebijakan, upaya mengubah, menghilangkan atau membuat kebijakan baru. Cara ketujuh Aksi, tindakan penekanan seperti demonstrasi, mogok, boikot. Cara ke delapan Testimoni, memberikan kesaksian tentang apa yang dialami. Missal menyaksikan buruknya system pemberangkatan buruh migrant didepan DPR. Cara kesembilan Pemantauan, mengamati dan mencatat kondisi tentang sebuah isu/ kasus. Cara kesepuluh Penyebaran laporan pemantauan, menyebarkan hasil pemantauan agar diketahui banyak orang. Dan cara yang teakhir adalah Pendidikan ke Korban.
Adapun advokasi berikutnya melalui Pengadilan. Pengadilan di Indonesia mempunyai tugas dan wewenang masing-masing. Jika kita salah masuk maka kita tidak akan diterima dipengadilan tersebut. Fasilitator menguraikan beberapa pengadilan yang dikenal di Indonesia dan wewenangnya, yang pertama Mahkamah Konstitusi (MK) : Menguji Undang-Undang (UU No. 24 Tahun 2003) ke dua ada Mahkamah Agung (MA): Menguji peraturan dibawah Undang- Undang, Mengadili kasus dari tingkat pertama untuk : kasasi dan peninjauan kembali. Ke tiga Pengadilan Tingkat Pertama, tebagi atas empat pengadilan:  pengadilan Negri (PN), Pengadilan Agama (PA), Pengadilan Militer (PM), dan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Adapun Pengadilan yang ke tiga adalah pengadilan di Lingkup PN, terbagi menjadi empat pengadilan: Pengadilan Hubungan Industrial(PHI), Pengadilan Niaga, Pengadilan Perikanan, Pengadilan Tipikor. Demikian jenis Pengadilan yang ada di Indonesia yang dijelaskan oleh fasilitator.  Adapun fungsi adanya jaringan adalah untuk menindaklanjuti kasus apabila tidak bisa ditempuh melalui jalur formal maka bisa dengan menggunakan jaringan maksudnya adalah mendekati orang-orang pemangku kebijakan dan lembaga tekait yang bisa membantu menyeleseikan permasalahan. Matei ini dibagi menjadi dua sesi. Siang dan sore setelah itu ISHOMA.
Ba’da sholat maghrib kami disajikan dengan Workshop cukil kayu. Kesenian yang masih terbilang langka karena belum familiar dikalangan seniman muda. Masing-masing peserta sebelumnya sudah dihimbau untuk membawa kaos polos yang nantinya akan disablon. Bukan hanya sekedar menyablon, disini peserta diminta untuk bersama-sama belajar cara menyablon Cukil dan di beri  media untuk bahan-bahan menyablon, yang tak kalah creative mereka menggunakan sablon cukil ini untuk menuliskan kata-kata atau gambar yang mengajak perdamaian. Sehingga orang yang melihat atau membaca sablon yang ada pada kaos tersebut akan menerima pesan perdamaian secara reflek.
Malam harinya kami diajak nonton bareng film timur tengah. Awalnya kami sempat kaget menyaksikan tayangan segerombol ibu-ibu dengan balutan busana hitam pekat, ada yang berjilbab, ada yang teurai rambutnya membawa salib di tangannya, ada pula yang membawa bunga dan bingkai foto dikalungi bunga. Suasana area pemakaman timur tengah dan nyanyian keputus asaan yang disenandungkan serentak membuat kami heran melihatnya. Film yang diputar kurang lebih dua jam itu bercerita tentang sekelompok masyarakat di kawasan pelosok desa timur tengah sebagian beragama Islam sebagian lagi beragama Kristen mereka hidup berdampingan dan saling menolong satu sama lain, tempat ibadah mereka juga letaknya berhadap-hadapan. Semakin lama kaum pria sering kali membesar-besarkan konflik jika berhadapan dengan golongan yang berbeda agama namun para wanita atau istrinya selalu mereda agar konflik tidak berkelanjutan bahkan para wanita bersedia memanggil wanita penghibur untuk menari di kedai coffy agar para pria atau suaminya lupa akan perselisihan antar agama tesebut, sedangkan kaum wanita sibuk mengambil senapan yang ada di rumah mereka masing-masing lalu menguburnya dalam-dalam, dengan harapan saat mereka saling serang tidak tejadi pertumpahn darah dengan senapan. Hingga suatu ketika ada salah satu pemuda yang tebunuh akibat pluru senapan yang salah sasaran dalam peperangan yang tejadi di luar desa mereka, saat pemuda itu melewati daerah konflik hendak pulang dari pasar. Ampai dirumah sang ibu justru memandikan mayatnya dan menyembunyikan di bawah sumur dengan cara menurunkan jasadnya melalui timba air, beberapa hari bejalan banyak teman-teman yang mencari pemuda itu, akan tetapi sang ibu merahasiakan dengan alasan agar tidak menjadi konflik antar agama yang nantinya menimbulkan korban. Sang ibu rela menahan pahitnya menyembunyikan rahasia kematian anaknya. Hingga pada suatu ketika kakak sang pemuda mendesak ibunya untuk member tahu dimana anak tersebut berada, sang ibu menjawab bahwa anaknya adadikamar dalam konsidi sakit cacar dan tidak bisa ditemui. Setelah itu sang kakak memaksa ibunya untuk membukakan pintu kamar sang adik, dengan ekspresi ketakutan sang ibu membukakan kamar anaknya yang sudah hampir satu minggu dikunci. Betapa terperanjaknya sang kakak saat tau adiknya tidak ada dikamar, hanya gundukan selimut yang beisi bantal guling. Sang  kakak berubah menjadi garang dan langsung membentak ibunya, dia menanyakan prihal kematian adiknya. sang ibu spontan mengambil senapan dan menembakkan ke kaki sang anak. Setelah anaknya jatuh sang ibu menangis dan meminta maaf. Beliau menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukannya semata hanya karena mencegah agar informasi kematian sang adik tidak diketahui warga karena nantinya aka nada aksi saling bunuh antara agama islam dan Kristen karena kesalah fahaman ini. Sebagai endingnya para ibu-ibu memberikan obat tidur dengan dosis tinggi  pada makanan yang disajikan pada pesta malam harinya. Ketika para laki-laki bangun, sang istri memberikan penampilan yang berbeda dalam segi busana dan rutinitas agama lain, dari yang muslim berubah mengenakan pakaian beribadahnya orang Kristen dan sebalinya bahkan orang Kristen menjadi berkerudung dan sholat dihadapan suaminya masing-masing, para wanita itu mengatakan bahwa jika mereka ingin membunuh atau memusuhi musuhnya maka hendaknya mereka membunuh dan memusuhi dirinya, karena mereka sekarang sudah merupakan bagian dari musuhnya. Kaum laki-laki sudah mulai sadar akan kekeliruan mereka selama ini dalam memandang agama lain. Mereka perlahan sudah menggeser cara berfikirnya dan sudah mulai berdamai. Sang ibu yang anaknya meninggal tadi sudah bisa membuka rahasianya kepada penduduk dan pada ahirnya jasad sang anak dipindahkan kepemakaman umum dan di saksikan oleh semua warga. Demikian film yang kami tonton. Sangat mengena pesan perdamaian yang disampaikan. Kami menonton dengan suasana haru, sekaligus malu, karena selama ini kami menganggap bahwa pemeluk agama laian adalah orang asing yang harus dijauhi karena berbahaya bagi keyakinan kita terhadap agama kita masing-masing. Akan tetapi realitanya berbeda, mereka sama seperti kita dalam hal mahluk social dan mempunyai naluri kemanusiaan yang sama. Jika kita ingin diperlakukan baik oleh mereka maka berbuatkan baik pada mereka, jika kita ingin mereka ramah dengan kita maka mulailah bersikap ramah pada mereka.
Pagi hari adalah hari terakhirku dan teman-teman peserta mengikuti acara AKTIPIS CAMP di sentul, karena hari berikutnya kami akan ke Jakarta untuk mengunjungi gereja Katedral dan Majid Istiqlal. Dihari terakhir ini kami memulai aktivitas dengan menjelajah alam di bukit sentul, setelah itu mengikuti materi dengan tema Logika dasar komunikasi dan bisnis Plan dalam kampanye creative. Pada kesimpulannya bisnis plan yang dikaitkan dalam kampanye creative ini ingin membuka paradikma para aktivis perdamian untuk belajar mencari penghasilan dengan cara creative, selain menyebar nilai-nilai perdamaian di media social seperi posting gambar-gambar, meme perdamaian juga disertai pencarian followers agar akun yang kita miliki juga bisa menghasilkan uang untuk menunjang kebutuhan hidup kita sehari-hari. Hari terakhir ini ditutup dengan pertunjukan seni dariberbagai daerah serta pengumuman kampanye creative yang masuk seleksi tingkat Nasional.
Perjalanan menuju gereja Katedral sudah kami tempuh sebelum cahaya matahari telihat sempurnya. Dalam gereja tersebut aku merasakan nuansa yang tidak bisa, bagaimana tidak ini untuk pertma kalinya aku memasuki gereja seumur hidupku . asap kemenyan mengepul di sudut pintu masuk gereja, beberapa patung  Yesus dan Bunda maria menenteng diberbagai sudut gereja. Aku ikut duduk di deretan kursi dan merasakan sensasi melihat orang-orang kristian berdoa. Jauh di memory otakku merasa pernah melihat rutinitas seperti ini dimana ya. Ternyata dulu waktu MTS aku pernah membaca buku-buku kristian di Gramedia. Setelah aku keluar dari gereja baru aku menyadari bahwa tidak ada apa-apa didalam, sama sekali tidak merubah kepercayaanku pada Allah. Justru sebaliknya, aku semakin yakin pada Allah, lebih dari mereka meyakini Tuhannya. Ternayata mereka yang bekata masuk ketempat ibadah agama lain itu bisa terseret kedalam keyakinan mereka itu SALAH menurutku.

SEKIAN……:) 
Dari Santri Untuk Perdamaian Antar Ummat Beragama
SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL 22 OKTOBER 2016


Share this:

Post a Comment

 
Copyright © berbagi cerita. Designed by OddThemes