Oleh :
Laela Alfiah
Jawa
Timur empat tahun silam.
Penjara suci, nama itu populer dikalangan
santri pada masaku dulu untuk menyebut istilah pesantren. Alasan sederhanaya,
karena di lingkungan pesantrenku santri tidak bisa beraktifitas dengan leluasa
tanpa aturan, etika dan norma Agama. Sebagai gambaran umumya, setiap hari kami
para santri haya tidur kurang lebih 4 jam. Scedule kami dimulai dari jam
setengah tiga pagi, kami diwajibkan bangun untuk mengikuti sholat sunnah mujahadah
sebanyak dua rakaat yang di akhiri sujud Tadallul, setelah itu kami harus mengantri
dibelakang ratusan santri putri untuk mandi, sedangkan kapasitas kamar mandi
yang tersedia hanya 21. Terkadang aku memperoleh antrian mandi terakhir,
sehinga saat aku baru akan mandi, adzan subuh sudah berkumandang, terpaksa
membuatku harus mandi super cepat.
Semua
santri sudah duduk bersimpuh di masjid dan serambinya sebelum adzan shubuh
terhenti. Sayup-sayup puji-pujian dilantunkan oleh suara-suara emas yang
dipilih langsung oleh Romo Yai (sebutan bagi kiyai sepuh), derap langkah Romo Yai
menandakan iqomah akan segera di suarakan, dan sholat subuh dilangsungkan
dengan khitmat. Dzikir panjang ba’da shubuh berahir pada jam setengah enam
pagi, dilanjutkan pengajian Al-Qur’an yang dibagi setiap kelompok. Kurang lebih
sepuluh orang dalam setiap kelompoknya, dipandu oleh para ustadzah. setelah
pengajian Al-Qur’an selesei para santri kembali ke komplek masing-masing utuk
bersiap-siap menuju Sekolah Misriu.
Letak
Sekolah Misriu (sekolah semi formal yang hanya mengkaji kitab-kitab kuning)
dipondok kami tidak jauh dari komplek. Terlebih Lempengan batuan besar yang
ditanam menghubungkan komplek kami dengan sekolah, sehingga hampir setiap pagi
irama kaki para santri yang melompat dapat terdengar jelas. Pesantrenku
bernuansa tradisional. Terlihat dari kain jarik (samping) yang di pakai sebagai
bawahan seragam sekolah diniyah, minang (kerudung berjahit) dan iket(handuk
kecil yang di ikatkan di kepala sebagai dalaman kerudung) sebagai penutup
kepala, hingga pen tutul (bolpen tradisional tanpa tinta) dan serat (sari pohon
pisang yang dikeringkan dengan cara dijemur lalu diberi tinta) digunakan
sebagai alat untuk menulis. Meskipun demikian namun seiring berjalannya waktu
beberapa properti bergeser kearah modern, seperti kentengan yang dulu
difungsikan untuk menandakan waktu masuk dan seleseinya sekolah Misriu,
sekarang sudah digantikan dengan bel, Juga beberapa pengajian yang di isi oleh
Romo Yai sudah menggunakan rekaman audio, hal tersebut karena faktor
bertambahnya usia, sehingga membuat bliau
sering mengalami sakit, terlebih jadwal tausiyah yang padat serta tamu-tamu
yang kerap kali membanjiri Ndalem (rumah Romo Yai), membuat waktu mengajar
bliau tersita, sehingga rekaman beliau diputar secara continu pada pengajian
kitab kuning, hadits maupun tafsir. Aku
pernah mendengar crita dari salah satu temanku yang menjadi Khodim di Ndalem
Bliau, dia mengatakan bahwa Romo Yai hampir setiap malam tidak tidur, bliau
merekam suaranya saat membacakan serta menjelaskan kitab-kitab yang sudah
terjadwal di keesokan hariya. Tujuannya supaya ketika bliau berhalangan hadir,
pengajian bisa berjalan dengan rekaman yang diputarkan.
Bayangan
sinar matahari hampir sama dengan tinggi benda aslinya, namun udara di
pesantrenku tetap sejuk, hal tersebut karena area pesantrenku dikelilingi oleh
pepohonan yang rindang. Para santri putri termasuk aku berhamburan dari kelas
Misriu, dengan hitungan menit kami semua telah duduk rapih dalam aula untuk
mengikuti agenda simaan ma’na kitab tafsir jalalain dan kitab hadis Bukhori
Muslim, semaan ini diadakan rutin seriap harinya terkecuali hari jum’at. para
santri yang bertugas juga sudah duduk pada baris paling depan, jauh di hadapan
mereka sudah duduk dua penguji atau disebut dengan dewan mushokhih. Semua
santri akan menyimak saat para petugas membacakan lembaran kitab yang sudah
mereka peroleh maknanya dari Romo Yai, dan sesekali para mushokhih meluruskan
makna yang dianggap kurang sesuai. Bakhan para petugas kerap kali mendapatkan
pertanyaan baik berupa Makna,maksud dari bacaan makna tersebut, hingga pengembangan
soal dalam bentuk realitas yang ada.
Setelah
semaan usai kami kembali ke komplek masing-masing untuk persiapan jama’ah
dhuhur di masjid pondok. Dzikir ba’da jamaah dhuhur sayup-sayup disuarakan
hingga ahir ditutup dengan do’a. Satu persatu santri beranjak dari tempat
sholatnya, namun sebagian ada yang memilih bersandar di tiang-tiang masjid
untuk sekedar membaca Al-Qur’an, murojaah pelajaran, menghafal Nadhoman,
menulis matan kitab untuk dimaknai keesokan harinya, dan sekedar beristirahat
untuk menghapus lelah sambil menunggu adzan ashar dikumandangkan.
Ba’da
jamaah ashar para santri bergegas ke Ndalem Romo Yai dengan membawa kitab
shohih bukhori dan bidayatul bidayah di pelukannya. Pengajian wajib shohih
bukhori dan bidayatul bidayah yang tidak hanya di ikuti oleh santri putri,
namun juga di ikuti oleh santri putra, juga para khodim hingga mereka harus
menghentikan aktivitas memasak dan bantu-bantu di Ndalem. Suara” Qola
RokhimahuAllahu Taala Wanafaana bihi Wabiulumihi Wabiasrorihi Fidzaroini Amin”
mulai terdengar, pertada pengajian akan dimulai. Para santri sudah menyiapkan
bolpen tutul dan mangsi yang sudah berisi serat untuk media memaknai kitab.
Kurang lebih 1 jaman Romo Yai membacakan ma’na dan menberikan penjelasan dengan
luwes dan ditail, setiap menutup pengajian beliau membacakan “ waAllahu A’lam
Bishowab” yang artinya adalah dan Allah lebih mengetaui yang sebenar-benarnya.
Dengan mengucapkan kalimat tersebut Romo Yai memberikan contoh betapapun banyak
keilmuan seseorang tidak ada yang dapat menandingi ilmu Allah, bahkan lebih
jauh beliau ingin mengajarkan sifat tawaddu kepada para santri, sehingga akan
timbul rasa saling menghargai pemikiran orang lain, karena yang maha tau
kebenaran hanya Allah.
Pesantren
dalam kacamataku adalah basis utama untuk mencetak pribadi yang tulus cinta
akan keilmuan dan berbudi luhur. Sebagai contoh teman-temanku para santri yang
sedang dalam kondisi sakit dan tiak mampu bangun untuk mengikuti pengajian di
aula, mereka tetap berusaha keras untuk mendengarkan dan ikut memaknai kitab
saat pengajian dari kamar-kamar mereka ,karena pengeras suara yang digunakan
oleh pesantren terdengar seantero pondok. Mataku bahkan sempat berkaca-kaca
saat melihat hirroh mereka terhadap ilmu. Ahlakul karimah juga mereka tunjukan
dengan tutur kata yang baik lagi sopan. Romo Yai sering mendawuhkan bahwa “
al-adabu fauqol ilmi” yang maksudnya adalah ada tingkatan yang tinggi di atas
ilmu yakni adab. Karena dengan addab berarti mutaalim tersebut telah
mengamalkan ilmunya. Yai juga pernah dawuh “ nduk jadilah santri yang Ilmiyah
Amaliyah, dan Amaliyah Ilmiyah” yang dimaksudkan adalah ketika kita mempunyai
ilmu seyogyanya diamalkan sehingga dapat maslahah untuk orang lain dan
lingkungan kita, serta jika kita melakukan sesuatu seharusnya menggunakan ilmu
agar tidak terjadi kekeliruan dan perbuatan kita jauh lebih manfaat.
Pesantren
juga dapat menjadi solusi bagi kemerosotan mental kaum remaja di Indonesia.
Salah satu buktinya adalah program Khitobah yang diadakan setiap malam Jum’at
setelah jamaah sholat Isya. Program khitobah ini memberlakukan sistem bergilir.
Adapun pembagian petugas terdiri dari petugas MC, Qiroah, tim sholawat, pembaca
sari tilawah, pidato, dan pembaca Doa’. Adapun santri-santri yang bertugas
merupakan delegasi dari komplek masing-masing ketika ivent kegiatannya Kubro. Akan
tetapi jika ivent yang diadakan perkomplek maka peserta di ambil dari delegasi
kamar. Aku merasakan dunia pesantren seakan menggambarkan miniatur Negara,
pemimpin tertinggi ada pada Kiyai sepuh, adapun dewan Asatidz dan Ustadzah
merupakan jajaran Dewan yang siap melaksanakan titah Kiyai, di pesantren juga
terdapat kantor pusat dengan struktur pengurus pusat. Tugas dari pengurus pusat
mengatur jalanya roda pesantren dari mulai peraturan-peraturan pondok, jadwal
kegiatan harian santri, jadwal pengajian, jadwal sekolah Misriu, mengeluarkan
ketentuan kitab yang digunakan setelah mendapat persetujuan dari Kiyai Sepuh,
serta menghimpun semua data santri yang ada di pesantren. Selain kantor pusat pesantrenku
juga memiliki kantor cabang di setiap kompek atau biasa disebut dengan pengurus
wilayah, adapun perannya untuk menjembatani pengurus pusat dengan santri di
kompleknya masing-masing. Baik dalam menyampaikan informasi, mengatur
administrasi, mengatur jadwal kegiatan komplek dll, yang terakhir ada pengurus
kamar, meskipun merupakan bagian terkecil dari jajaran kepengurusan akan tetapi
memiliki peran yang tak kalah penting. Pengurus kamar terdiri dari ibu kamar
sebagai pengatur keuangan harian serta memenuhi kebutuhan anak kamarnya baik
dalam segi peralatan, kesehatan, pendidikan, pengajaran ahlaq, serta memberikan
bimbingan konseling bagi santri baru yang belum bisa menyesuaikan diri dengan
dunia pesantren. Ibu kamar sendiri biasanya diambil dari santri senior yang
sudah menjadi ustadzah dengan criteria yang sudah disetujui oleh Kiyai Sepuh.
Adapun pengurus kamar lainnya terdiri dari ketua kamar, wakil ketua, bendahara,
sekretaris seksi kebersihan dan seksi kesehatan.
Kegiatan
lain yang dapat menguatkan metal para santri adalah Tirakat yang hanya dianjurkan
untuk santri-santri yang sedang menjalankan hafalah Nadzom Al-Fiyah Ibnu malik.
adapun tirakat yang di ikuti berupa pembacaan surat Yasin, Al-Mulk, Al-Waqiah
dan dzikir-dzikir khusus yang dilakukan dari jam 1-2 malam dengan posisi
berjaga ditempat-tempat yang sudah ditentukan seperti didepan kelas, di
musholah, depan kentengan, di depan komplek yang kesemua tempatnya itu dilalui
saat acara Haflah Al-Fiyah Ibnu malik dihari H nanti. Hal yang luar biasa
adalah godaan saat berjaga malam, selain tempatnya gelap, sepi, dingin, juga
beberapa santri ada yang digoda oleh mahluk lain, akan tetapi tidak sampai
membahayakan. Tirakat ini bersifat wajib bagi calon wisudawan wisuda wati
Al-Fiyah Ibnu malik, tidak perduli kondisi hujan lebat, mati lampu atau banjir
sekalipun harus kami lawan. Dari sini Kiyai sepuh mengajarkan para santri agar
priatin saat dalam kondisi sulit, semangat perjuangan dalam mengusung
kesuksesan serta kesabaran dalam menjalani hidup. Moment ini yang membuat saya
dua kali mengalami cedera pundak dan kaki kanan akibat jatuh terpeleset di
tangga pondok saat hujan lebat, dimana kondisinya aku sedang berjalan menuju lokasi
berjaga. Meskipun demikian aku merasa sangat bangga saat acara haflah sukses.
Pesantrenku
juga mewadahi organisasi-organisasi daerah guna menggali potensi kederahannya
masing-masing, serta mengenaali permasalahan keagamaan yang ada di daerah guna
mendiskusikan solusinya, seperti Madura, Surabaya, Malang, Tegal, Cirebon,
Kuningan, Bekasi, Jakarta, Sumatra dll. Adapun program yang di adakan oleh
organisasi daerah tidak lepas dari pengajian, marhabanan, Khitobah, Hadroh, Barjanzi,
Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jaelani, serta berdiskusi rutin. Mereka
juga ikut memberikan warna tersendiri pada ivent pra haflah saat organisasi
daerah berkompetisi dalam lomba masak makanan khas daerah, baca brita daerah,
Mc bahasa daerah, serta pidato bahasa daerah. Tak jarang saat perlombaan
berlangsung para santri tertawa terpingkal-pingkal mendengar orang tegal
mengatakan “ anane enyong ning kene arep macakaken brita nganggo koen kabeh o
ya’ ” dengan logat medok khas tegal. para santri yang menonton juga dibuat
bengong dan geleng-geleng kepala saat mendengarkan petugas berita dari Madura,
respon yang disuarakan oleh santri yang menonton “ te sate!!!” disusul tawa
jamaah.
Pesantren
kami memiliki santri dari berbagai kultur, bahasa, ras dan ragam latar belakang
agama yang dianut oleh keluarganya. Akan tetapi kami hidup dengan rukun dan
saling mendukung . Bahasa kesatuan yang digunakan di pesantren adalah bahasa
Jawa halus atau kromo inggil. Dari sekian banyak kasus yang ada tidak pernah
aku mendengar ada perselisihan yang disebabkan oleh perbedaan itu, yang ada
hanya pelanggaran-pelanggaran kecil seperti keluar pondok tanpa izin, membawa
elektronik, pacaran, tidak mengikuti kegiatan dll dan hukumannya pun cukup
ringan seperti mencuci karpet masjid, mengepel, membaca surat-surat tertentu,
dan marhabanan dengan menggunakan pengeras suara, hukuman berlaku pada semua
santri tanpa terkecuali. Ngomongin masalah hukuman aku sendiri pernah mengalami
hukuman yang menurutku cukup berat, dari sejak MTS hobiku membaca buku-buku apa
saja yang menurutku menarik, dari mulai fiksi seperti novel karya Andrea
Hirata, cerpen milik Gusmus, puisi tasawuf karya Jalaluddin Rumi, komik Conan
Edogawa, bacaan non fiksi seperti artikel,
pengetahuan umum seperti psikologi, agama hingga berita dalam media cetak.
Suatu ketika aku dengan teman-teman santri seusiaku mengadakan bazaar buku di
sekolah MA guna memperingati Disnatalis sekolah, aku sendiri membeli beberapa
buku yang berbicara mengenai Aliran-Aliran dalam islam, konflik Suni Syiah,
Pluralisme dan buku-buku sejenisnya, mumpung harganya murah menurutku saat itu,
sepulang sekolah aku baca salah satu buku itu di kamar, teman-teman sekamarku
langsung heboh dan nitip dibelikan beberapa buku di bazaar. Keesokan harinya
aku bawa dua tas untuk membaca buku-buku titipan teman-teman, ternyata salah
seorang pengurus yang tau aku bawa buku-buku umum mengadu ke pengurus yang
lain, ba’da jamaah dhuhur kamarku dirazia pengurus. Tak lama kemudian aku
dipanggil ke kantor cabang dan di introgasi. Aku disudut ruangan bersimpuh
dengan badan gemetar, semua mata pengurus tertuju padaku, sesekali gebragan
tangan keamanan pondok memebuat jantungku hampir copot. Saat itu aku merasa
menjadi orang yang paling bersalah. Bagaimana tidak aku belum membela diri tapi
pengurus pondok membacakan sederet hukuman yang harus akau jalani selama kurang
lebih satu bulan. Dan buku-buku hasil geledahan pengurus dibakar di hadapan
ratusan sanatri. Kesalahanku menurut mereka selain aku melanggar peraturan
pondok dengan membawa buku diluar kitab yang dikaji di pondok aku juga sebagai
profokator santri liberal yang mencuci otak santri-santri lain dengan
menyuguhkan bacaan-bacaan yang menyimpang, aku merasa menjadi orang hina saat
itu. Santri-santri lain yang merasa taat aturan memandangku negative, bahkan
sindiranpun seringkali menghujaniku. Belum satu bulan aku menerima hukuman
salah satu pihak penerbit buku yang sedang menjadi patnerku saat itu menelfon
ke pondok meminta hukumanku untuk diringankan, entah darimana mereka tau kalo
aku kena hukuman.
Trauma hukuman yang aku terima tidak
menyurutkan hobiku untuk membaca, bulan berikutnya aku memilih untuk menyewa
buku-buku yang ingin aku baca dari salah satu toko buku disana. Teman-teman
santri yang punya hobi sepertiku juga mengikuti jejakku. Kami memilih untuk
membaca di sekolah lalu dititipkan ke salah seorang teman kami yang merupakan
penduduk asli desa itu, keesokan harinya saat kami ingin baca dia akan membawakan
kembali buku-buku kami. Untuk bisa membaca Koran sering kali kami menyiasati
dengan cara menyampul buku pelajaran dengan sampul Koran, sehingga saat kami
ingin membaca Koran terbaru kami tinggal mengganti sampul buku saja, dan cara
ini paling evektif untuk mencari jalan aman dari ancaman pengurus. Meski
terkesan nakal namun kami tidak berbuat anarkis, apa yang salah dengan keingin
tahuan kami pada pengetahuan. Lagi pula tidak setiap hari kami mengganti sampul
bisa satu minggu sekali bahkan kadang dua minggu sekali. Jadi berita yang kami
baca sudah lewat masanya.
Maktabah atau perpustakaan pesantren
putri bagi kami terasa kering. Koleksi kitab-kitab didalamnya terkesan angkuh
dan kurang bersahabat dengan kalangan penikmat bacaan ringan seperti kami.
Kalau bukan karena tugas sekolah Misriu yang mewajibkan merujuk pada
kitab-kitab syarah, mungkin kami enggan berlama-lama di perpus. Seperti
Tamanni(Fatamorgana) bagi kami mengharapkan buku-buku umum di perpustakaan.
Jangankan buku bacaan umum, terjemahan kitab saja tidak dilegalkan untuk
dikonsumsi. Bahkan buku diary, kumpulan puisi karya pribadi dan surat-surat
juga ikut di razia jika ketahuan. Tujuan dari adanya peraturan ini sebenarnya
agar membuat santri-santri fokus dalam mengkaji kitab kuning hingga mendalami
syarahnya. Akan tetapi dengan adanya pelarangan tersebut justru membuat para
santri yang haus akan keilmuan di luar kajian pesantren memilih untuk melanggar
dan mencari kepuasan bacaan di luar.
Dalam satu tahun sekali pesantrenku
mengadakan batsul masail guna melatih para santri untuk lebih bijaksana
menyikapi permasalahan yang ada di lingkungan sekitar dengan merujuk pada
kitab-kitab kuning dengan jalur musyawaroh. Bukan hanya santri yang terlibat
pada forum ini, akan tetapi para asatidz , ustadzat begitu juga para kiyai
sepuh ikut berkumpul sebagai musokhih. Rumusan masalah yang diangakat dalam
Batsul Masail juga menyesuaikan permasalahan yang sedang in pada masa itu,
sehingga para santri dapat memberikan kontribusi berupa penawaran solusi dari
hasil Batsul Masail tersebut. Agenda lain yang juga di adakan satu tahun sekali
adalah simaan Al-Qur’an. Agenda ini dibuka untuk masyarakat umum, simaan ini
didirikan tahun 1986. Adapun agenda simaan ini berisi tawassul kepada para wali
Allah, dzikir, kemudian dilanjutkan simaan Al-Qur’an 30 juz. Dalam agenda ini
masyarakat dan pesantren bergotong royong mensukseskan acara, banyak masyarakat
memberi hasil berkebun seperti sayuran dan Buah-buahan sedangkan pesantren
menyediakan tempat, akomodasi, dan lain sebagainya. Yai pernah dawuh “ Agenda
selanjutnya adalah pembacaan manaqib syekh Abdul Qadir Al-Jaelani yang juga
mellibatkan masyarakat umum. Sebenarnya tidak hanya pada agenda-agenda tertentu
saja pesantren mengikut sertakan masyarakat sekitar, akan tetapi banyak santri
kalong (penduduk sekitar pesantren yang hanya ikut kegiatan mengaji namun tidak
menginap dipondok) yang juga meramaikan kegiatan pesantren.
Romo yai terkenal sebagai seorang
ahli hikmah, sehingga ndalemnya sering kali didatangi tamu-tamu dari berbagai
daerah guna meminta solusi dari permasalahan yang mereka hadapi. Profesi dari
tamu tersebut juga beragam, dari mulai pejabat pemerintah, pengusaha, pedagang
kaki lima, petani, pengangguran, maling, penjudi dan pecandu narkoba yang ingin
bertaubat. Agama mereka juga tidak melulu islam, akan tetapi terkadang Kristen,
hindu, buda bahkan konghucu. Romo yai sangat ramah pada tamu-tamunya, semua
diperlakukan sama. Romo yai juga sering mendawuhkan pada santri-santrinya untuk
menjamu semua tamu dengan ramah dan santun.
Kurang
lebih empat tahun aku mencium Aroma Jawa
Timur, setelah ahirnya aku kembali ke pesantrenku dulu sewaktu MTS di kota
Cirebon. Selain mengajar dipondok aku juga kuliah di IAIN Cirebon. Bekal mondok
di jawa timur sangat membantuku dalam memahami ilmu-ilmu alat seperti Nahwu,
sorof begitu juga dengan ilmu fiqh. Aku merasa inilah waktu yang pas untukku
menghilangkan rasa haus akan ilmu umum serta mengkonfirmasi bacaan-bacaan yang
pernah aku baca. Prasangka negative terkait agama, aliran serta pemikiran
golongan diluar faham ahlussunah wal jamaah sempat terlintas dalam fikiranku.
Aku hanya berkumunikasi dan beraktifitas dengan orang-orang yang aku anggap
satufaham, bahkan untuk bisa menginjakan kaki ketempat ibadah selain masjid
saja takut rasanya. Takut akan terbawa dalam kelompok mereka, takut akan
pandangan negative orang-orang di sekitarku yang mayoritas satu faham, dan
takut akan dijauhi oleh teman-teman terdekat karena dianggap melenceng.
Berangkat
dari pemikiran itu membuatku kaku, tertutup dan tekstual dalam memberikan
penjelasan terkait hukum saat mengajar pada teman-teman santri. Dua tahun lebih
aku hidup dibayang-bayangi pemikiran negative yang membebaniku. Tiba saatnya
aku berfikir untuk mencoba bergaul dengan para aktivis perempuan di berbagai
organisasi, kebetulan teman dekatku yang merupakan putri dari kiyai di pondok
Cirebon juga seorang aktivis perempuan Nu. Sesekali dia mengajaku untuk ikut
ivent-ivent yang di adakan oleh teman-teman aktivis, awalnya aku canggung,
namun lama kelamaan aku merasa nyaman bergaul dengan meraka yang notabennya dipandang
negative oleh masyarakat. Perempuan pulang malam, memakai celana, sering
menginap serta bergaul dengan laki-laki dalam dunia pesantren memiliki sterotip
negative. Akan tetapi pandangan negative tersebut mulai bergeser dalam benakku
setelah aku mengetahui rutinitas yang mereka lalukan tidak jauh berbeda dengan
mengaji di pondok, aku mulai berfikir bahwa esensi mengaji adalah menimba ilmu,
mengharapkan barokah lebih jauhnya mengharapkan ridho Allah, sama halnya dengan
kegiatan yang di adakan oleh aktivis social, meraka menguras fikiran untuk
memikirkan solusi dari konflik yang menjamur di masyarakat, mereka mengatur
strategi untuk menebar nilai-nilai perdamaian ditengah masyarakat yang terbakar
amarah untuk saling membinasakan, mereka terjun untuk membela masyarakat yang
hasil tanahnya dikeruk habis-habisan oleh investor asing dan limbahnya
menyisakan banyak bibit penyakit bagi masyarakat sekitar, meraka memperjuangkan
hak-hak para wanita yang bungkam meski terampas kesuciannya, memperjuangkan
para istri yang di aniyaya oleh suaminya, mereka memantau serta mengkritisi
undang-undang pemerintah yang diskriminan pada minoritas, memperjuangkan
hak-hak buruh serta memberikan pendidikan mental, kreativitas serta
sekolah-sekolah perdamaian. Semua itu tentu sama nilainya dengan mengaji.
Pada
bulan September 2015 lalu aku mengikuti pelatihan dasar HAM dan Hak Kewarga
negaraan Bagi Pemuda di Wilayah 3 Cirebon, bertempat di Paseban Cigugur kota
kuningan. Acara yang aku ikuti dari tanggal 28-30 september ini kurang lebih
memberi pemahaman tentang Hak Asasi Manusia atau disingkat “HAM”. HAM
sendiri merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia yang didapatkan
sejak lahir dimana secara kodrati HAM sudah melekat dalam diri manusia dan tak
ada satupun orang yang berhak mengganggu gugat karena HAM bagian dari anugrah
Tuhan, itulah keyakinan yang dimiliki oleh manusia yang sadar bahwa kita semua
makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki derajat yang sama dengan manusia yang
lainnya sehingga mesti berhak bebas dan memiliki martabat serta hak-hak secara
sama. Adapun Pengertian HAM menurut komnas HAM adalah “Hak Asasi manusia
mencakup segala bidang kehidupan manusia, baik sipil, politik, maupun ekonomi,
sosial dan kebudayaan. Kelima-limanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hak
asasi manusia ini bersifat pribadi sehingga dapat memberikan kebebasan semisal
untuk bergerak, bepergian, bebas menyatakan pendapat, memiliki hak kebebasan
untuk aktif dalam suatu organisasi, dan hak dalam menjalankan perintah Tuhan.
Pemetaan HAM yang aku dengarkan dari pelatihan
tersebut meliputi Hak Asasi Pribadi (Personal Rights), Hak Asasi Pribadi
adalah hak yang meliputi kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan memeluk
agama, kebebasan bergerak, kebabasan dalam untuk aktif setiap organisasi atau
perkumpulan dan sebagainya. Hak asasi Politik (Politik Rights) ,yang berhak untuk memilih ataupun dipilih dalam
setiap pemilihan. Kemudian hak asasi pilih adalah berhak untuk ikut dalam
setiap kegiatan pemerintah, dan berhak membuat serta mengajukan suatu petisi. Selanjutnya
Hak Asasi Hukum (Rights Of Legal Equality), hak ini merupakan hak asasi manusia yang memiliki kesamaan
dalam sebuah hukuman dan pemerintahan, semisal berhak dalam mendapatkan perilaku
yang sama dalam hukum dan pemerintahan. Berikutnya Hak asasi ekonomi (Property Rights), yakni berhubungan dengan perekonomian dimana
setiap orang berhak melakukan proses jual beli, berhak dalam mengadakan sebuah
perjanjian kontrak, berhak memiliki sesuatu dan pekerjaan yang layak. Hak Asasi
Peradilan (Procedural Rights)
, hak ini diperlukan dalam sebuah tata cara pengadilan, dimana anda berhak
memperoleh persamaan derajat didepan hukum. Terakhir Hak Asasi Sosial Budaya (Social and
Culture Rights),
hak asasi ini berhubungan dengan kondisi masyarakat dimana setiap manusia
berhak untuk memilih dan menentukan pendidikannya nanti, dan berhak untuk
memilih kemampuan sesuai dengan bakat dan minatnya.
Materi selanjutnya yang aku dapatkan pada pelatihan ini
adalah tentang Hak Kewarga negaraan Bagi Pemuda di Wilayah 3 Cirebon. Pemateri
kurang lebih memaparkan Hak Kewarga negaraan secara umum, dimulai dari definisi
pengertian dari
hak kewarganegaraan yaitu suatu hak yang harus sudah kita dapatkan dari suatu
negara tersebut,dan hak tersebut sudah kita dapatkan dari lahir. Seperti Contoh
Warga suatu negara berhak mendapatkan pekerjaan yang layak, Warga suatu negara
bebas memilih agamanya masing-masing, Warga suatu negara mendapatkan
perlindungan hukum, Warga suatu negara berhak mendapatkan pendidikan, Warga
suatu negara berhak mendapatkan penghidupan yang layak, Warga suatu negara
mempunyai derajat yang sama di mata hukum, Dan lain-lain.
Setelah menyampaikan materi berlanjut ke acara diskusi, peserta yang dihadirkan
oleh panitia beragam salah satunya berasal komunitas seperti PMII Kuningan,
PMII Cirebon, Kansa, Bayt Al-Hikmah, delegasi pesantren Kebon Jambu Babakan
Ciwaringin, Komunitas MB2(Melek Bengi-Bengi), Pelita, Mahasiswa Isif, Pemuda
Ahmadiyah Manis Lor, IPPNU Kabupaten Cirebon, Kopri Kuningan, Mahasiswa
Unswagati Cirebon, Pemuda Sunda Wiwitan, Kopri Cirebon dan santri Buntet
Pesantren. Dari hasill diskusi atau sharing antar delegasi tersebut aku dapat
memperoleh banyak ilmu. Disisi lain sedikit-demi sedikit pertanyaan yang
menghujaniku dari waktu mondok di jawa timur mulai terjawab. Salah satunya
mengenai identitas aliran diluar Ahlusunnah Waljamaah, bagaimana cara pandang
mereka terhadap agama islam, serta cara mereka beribadah. Aku merasa nyaman
dengan mereka karena sikap mereka yang ramah dan terbuka saat berdiskusi. Untuk
merelaksasikan suasana diskusi kami sesekali diselingi dengan ice beraking,
disini aku juga merasakan kedekatan emosional dengan peserta yang lain. Setelah
makan malam selesai kami menginap di rumah penduduk. Penghuni rumah tempatku
bermalam terdiri dari sepasang suami istri dan anak perempuannya. Sekilas
terlihat biasa-biasa saja, akan tetapi setelah aku berbincang-bincang dengan
penghuni rumah tersebut aku menemukan bahwa suami istri tadi merupakan pasangan
yang berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Saat dzan maghrib
berkumandang kami kebingungan mencari mukena untuk sholat, ibu pemilik rumah
melihat kebingungan kami lalu mengatakan “ punten nya neng, barang kali mau
sholat mukenanya bisa pinjam di anak ibu, kalo ibu sendiri ga sholat karena
beragama Kristen, Tapi suami dan anak ibu muslim neng “. Setelah ucapannya
selesei baru kami menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh ibu tadi benar,
dibuktikan dari beberapa symbol hiasan dinding yang kami temui menggantung di
tembok samping pintu kamar. Disana berjejer patung yesus dan beberapa simbol
agama Kristen, sedangkan ditumpukan rak buku kami menemukan kitab Al-Qur’an dan
beberapa tumpuk buku-buku bacaan agama islam. Malam harinya kami ditawari
makan, beberapa orang dari kami langsung menuju ruang makan, disana sudah
disajikan nasi beserta lauknya, awalnya kami merasa ragu saat ingin mengambil
lauk daging, akan tetapi ibu pemilik rumah langsung mengetahui keraguan kami ,
beliau mengatakan “ mangga neng dimakan!!, itu daging sapi sisaan pembagian
korban dua hari yang lalu, halal neng!” suara yang membuat kami merasa malu
sekaligus kagum melihat cara ibu pemilik rumah menghargai agama kami. Malam
semakin larut, dingin menyelimuti bumi cigugur membuat kami terlelap dibalik
selimut.
Jum’at pagi kami sudah prepare barang
bawaan, karena sore harinya acara pelatihan akan ditutup.dihari terahir ini
kami tidak diberikan materi, akan tetapi panitia meminta kami untuk berdialog
dengan penduduk sekitar agar kami mengetahui culture dan ragam agama yang
mereka anut. Kami menaiki jalan menuju pemakaman, disana kami melihat berbagai kuburan dengan beragam symbol agama.
Satu samalain saling berhadapan. Sekembalinya dari pemakaman kami menuju rumah
tempat kami menginap, diperjalanan kami melihat banyak ternak babi di kandang
milik warga, kami juga sering kali berpapasan dengan anjing peliharaan yang
berkeliaran dijalan. Sampai penginapan kami bertanya banyak hal kepada ibu
pemilik rumah, bliau memberikan penjelasan bahwa warga di desa Cigugur memang
menganut agama dan kepercayaan yang beragam. Termasuk pemilik ternak babi di
dataran atas sana juga agamanya beragam antara suami dan istri. Salah satunya
beragama Kristen sedang satunya lagi beragama hindu akan tetapi mereka hidup
rukun selama puluhan tahun. Disela-sela pembicaraan kami ibu pemilik rumah
meminta izin akan menyiapkan baju untuk suaminya berangkat sholat jum’at,
mengingat waktu sudah menunjukan pukul 11.00wib. untuk kedua kalinya kami
dibuat terharu oleh penghuni rumah ini. Cara ibu melayani suaminya meski
berbeda agama membuat kami merasa malu karena selama ini kami berprasangka
negative pada pasangan keluarga lintas agama. Karena kami hanya berbicara dalam
kisaran hukum saat memandang pernikahan lintas iman.
Tiba saatnya kami pulang setelah penutupan
acara. Aku bersama dengan teman-teman asal Cirebon pulang mengendarai angkutan
umum, diperjalanan aku hanya bisa tersenyum mengingat realitas yang aku temui
selama tiga hari mengikuti rangkaian acara. Aku merasa semakin percaya pada
Allah sebagaimana mereka meyakini tuhan mereka. Pemikiran membela tuhan
menurutku hanya mencari sensasi untuk eksistensi kepentingan golongannya
masing-masing. Aku mulai berfikir bahwa Tuhan tidak butuh dibela. Yang butuh
dibela adalah para manusia yang terdiskriminasi bahkan terancam hidupnya akibat
ulah kelompok radikal yang mengatas namakan agama. Mereka yang
menggembor-gemborkan membela Tuhan, sedang mereka tuli dengan firman-firman
Tuhan yang menyerukan perdamaian, buta karena tidak melihat akibat dari
perbuatan anarkis mereka dapat memunculkan trauma panjang pada anak-anak yang
notabennya masih belum mengetahui agama, anak muda yang terampas masa
belajarnya karena harus mengungsi akibat teror, para orang tua yang menghabiskan masa hidupnya dengan
penderitaan karena memikirkan kesuraman masa depan anak-anaknya, bahkan tuli
dari jerit tangis orang-orang yang mereka siksa, raungan para ibu meratapi
kematian anak dan suaminya akibat radikalisme agama. Jangankan disebut manusia,
julukan binatang saja untuk orang-orang radikal seperti mereka rasanya kurang
pantas, melihat binatang tidak akan membunuh sesama jenisnya. Suara teman-teman
membuyarkan fikiranku. Rupanya sudah sampai Cirebon.
Langkahku menuju pesantren semakin cepat,
mengingat waktu sholat maghrib hampir tiba. Dari jalan raya menuju pesantrenku
kurang lebih membutuhkan waktu 20 menit, kendaraan yang tersedia berupa ojek
atau beca, akan tetapi aku terbiasa jalan, bukan karena ingin olah raga tapi
karena sering kali aku tidak punya cukup uang untuk membayar ongkos
angkutannya. Sampai dipondok aku menyusul sholat jamaah maghrib. Ba’da isya rutinitas
ku di pesantren adalah mengajar di sekolah diniyah atau penyebutan sekolah semi
formal yang hanya mengkaji kitab-kitab kuning. Seperti biasanya aku menyelipkan
metode gerak tubuh setelah mendiktekan
makna kitab gundul, untuk mempermudah pemahaman ade-ade santri terhadap
ilmu alat yang cukup rumit. Mereka yang umurnya masih remaja kerap kali merasa
jenuh dengan metode dictator atau pembicaraan satu arah. Malam itu aku
menyempatkan sharing dengan santri-santri di kelas tentang pengalamanku bertemu
dengan para pemuda lintas agama dan cara warga cigugur menghargai kami meski
berbeda keyakinan. Waktu semakin larut namun kami masih hanyut dalam diskusi.
Antusias mereka membuatku optimis akan terciptanya sikap toleran mereka sejak
dini, dengan begitu para santri nantinya akan menjadi penangkal radikalisme
skala kecilnya bagi diri mereka sendiri, lingkungan sekitar dan skala besarnya
untuk Negara Indonesia. Cara yang paling evektive untuk saat itu adalah dengan
sharing, karena mereka nantinya akan bercerita dengan teman-teman sebayanya
yang ada di asrama-asrama lain.
Salah satu teman dikamus mengingatkanku
bahwa sore hari nanti akan ada kajian rutin mingguan Organisasi Ekstra Kampus
PMII Rayon An-Nahdloh, kebetuan aku sudah menunggu moment ini untuk
mendiskusikan islam radikalisme dan upaya remaja untuk ikut membendung gerakan
radikal. Selain aku ada beberapa sahabat yang juga ikut dalam pelatihan di
Cigugur. sebelum kami berdiskusi terlebih dahulu kami memulai dengan sharing
terkait materi yang kami dapatkan saat pelatihan, sekaligus sebagai intro
diskusi islam radikalisme. Kurang lebih 2 jam kami beriskusi di taman kampus. Dalam
diskusi tersebut kami banyak meminjam bahasa milik Gus Dur. Salah satunya
tentang perkataan Gus Dur “ Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan Ekstrimis
memutar balikkannya” ,dari perkataan tersebut tentu Gus Dur ingin mempertegas
bahwa Ekstrimis bukanlah anjuran agama manapun, karena didalamnya tidak
mengandung nilai-nilai perdamaian sama sekali. Justru dengan Ekstrimis agama
menjadi angkuh, kaku, dan menjadi terror bagi pemeluknya.
Perkataan Gusdur yang kami diskusikan
selanjutnya “Keindonesiaan adalah ketika agama-agama atau keyakinan yang hidup
di Indoneisa berdiri sejajar dan memiliki kontribusi yang sama terhadap negeri”
perkataan tersebut membuka mata kami bahwa Indonesia adalah Negara Pancasila
bukan Negara islam atau Negara milik agama lain, sehingga sudah sepantasnya
pemerintah memberikan pelayanan yang sama rata kepada semua masyarakatnya,
begitu sebaliknya masyarakat harusnya bergotong royong mengedepankan
nasionalisme guna membangun Indonesia agar menjadi Negara maju. Harus di akui
bahwa Indonesia multi culture, bahasa,
ras, agama serta kepercayaan. Lebih jauh perkataan Gusdur memantapkan diskusi kami “ Tidak penting apa
agamamu atau sukumu..kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua
orang. Orang tidak akan pernah Tanya apa agamamu.”, dalam kutipannya gusdur
ingin mempertegas bahwa urusan agama adalah urusan manusia dengan Tuhan, dan tidak berhak bagi
agama manapun mengatakan dirinya paling benar, sedang yang lain salah. Karena
hanya Tuhan yang berhak menilai kelayakan seorang hamba untuk masuk kedalam surga
atau neraka. Kebenaran yang dikonstruksi oleh manusia belum tentu sama persis
dengan kebenaran dalam pandangan Tuhan. Sang surya telah menarik cahayanya ,
menandakan diskusi kami harus segera berakhir. Belakangan aku merasa semakin gemar
membicarakan toleransi, baik dengan teman-teman dikampusku, di organisasi juga
dipesantren. Lebih dari itu aku menjalin persahabatan dengan teman-teman pemuda
dari komunitas Ahmadiyah dari manis lor Kuningan, teman-teman Syi’ah asal
Cirebon, Sunda Wiwitan dari Cigugur kuningan dan komunitas lintas iman lainnya.
Persahabatan kami dimulai saat aku ingin mengkonfirmmasi bacaan yang aku baca
di pondok dulu. Dalam bacaanku Mereka yang dikafir-kafirkan, di anggap sesat
dan menistakan agama, setelah aku mengekenal mereka, sesekali mampir ketempat
ibadah mereka, berdialog dengan pemuka agama mereka, aku baru tahu bahwa
orang-orang yang mengkafirkan adalah orang-orang yang sejatinya belum mengenal
mereka atau terlalu fanatik dengan kepercayaan yang mereka anut.
Rabu 28 Oktober 2015 aku kembali mengikuti pelatihan yang di
adakan oleh READY, betempat di Hotel Bentani Cirebon. pelatihaan lanjutan ham dan hak kewarga negaraan ini lebih banyak
diisi oleh teman-teman aktivis dari luar kota. Mereka banyak berbagi tentang
perlunya membangun Toleransi untuk kerukunan umat beragama di Indonesia. Disana
aku dan peserta lainnya tidak banyak menerima materi, akan tetapi kami diajak
menyusun strategi untuk membuat kampanye kreatif atau kampanye perdamaian. Kami
juga berbagi peran untuk memainkan drama di panggung mini yang sudah disediakan
oleh panitia di ruang aula hotel. Aku bersama ke empat temanku yang lain
berperan sebagai demonstran, sedangkan lima temanku lainnya ada yang beperan
sebagaijam’iyah Ahmadiyah dan beberapa aparat desa, pejabat daerah, serta pihak
keamanan. Kami memainkan reka ulang kasus perusuhan rumah ibadah Jamiyah Ahmadiyah
di Manis lor Kuningan. Setelah selesei kami dimintai pendapat tentang perasaan
selama menjalani peran. Dari pebeberapa teman yang mengungkapkan ada yang
mengatakan bahwa kasus seperti ini seharusnya tidak tejadi karena menimbulkan
banyak korban. Ada juga yang berpendapat bahwa adanya kasus penyerangan pada
masjid Jamiyah Ahmadiyah ini merupakan ulah dari beberapa oknum yang sengaja
mengadu domba sesama muslim, dan para warga juga harusnya tidak terprofokasi
dengan hasutan oknum tersebut, sehingga tidak mudah menindas kepercayaan lain.
Sedangkan, menurutku tidak adanya kesadaran bahwa Negara kita bukan Negara yang
dibangun atas dasar satu agama saja akan tetapi Negara yang berlandaskan
pancasila dan bineka Tunggal ika, dengan
adanya kesadaran itu tentu tidak akan ada masyarakat yang teprofokasi, bahkan
lebih jauh lagi tidak akan ada oknum yang memprofokasi karena mempunyai rasa
toleransi, kasih sayang dan tumbuhnya rasa persaudaraan sesama penduduk
Indonesia. Yang tak kalah penting panitia mengadakan beberapa games yang
pesertanya terdiri dari beberapa delegasi agama islam, Kristen, Jamiyah
Ahmadiyah Manis Lor Kuningan, penganut Sunda Wiwitan, Pemuda lintas Agama, PMII
Kuningan, Pmii Ciebon, Pesantren Buntet, Pesantren Babakan Ciwaringin,
Pesantren Kempek dll, di permainan itu salah satunya mengajak kami untuk
berdiri bersama, kemudian panitia mengajukan beberapa pernyataan, dari
pernyataan tersebut jika sesuai dengan diri kita masing-masing maka satu
langkah kedepan, tapi, jika tidak sesuai maka kami harus melangkah mundur.
Salah satu pernyatannya adalah “ agamaku merupan mayoritas di desaku”. Betapa
terkejutnya aku saat permainan di ahiri aku berada di posisi paling depan,
sedangkan beberapa teman-temanku dari agama dan kepernyataan lain jauh
tertinggal dibelakang. Setelah itu kami semua diajak untuk mengetahui maksud
dari permainan tadi, salah satunya adalah beberapa orang yang melangkah kedepan
dan terus kedepan adalah agama mayoritas dan dalam kondisi hidup yang damai,
sedangkan mereka yang terus melangkah kebelakang adalah sodara-sodara kita yang
menganut agama minoritas, yang hidup dalam tekanan masyarakat, diskriminasi,
dan tidak memperoleh hak selaku warga Negara. Dari sini kami merasa sangat malu
dengan teman-teman yang tidak memperoleh apa yang kami peroleh. Rasa toleransi
kami mulai tumbuh dan kesadaran untuk merangkul mereka sebagai saudara setanah
air mulai tumbuh. Games lain yang disediakan fasilitator adalah bermain ular
tangga. Tidak seperti permainan ular tangga yang kami mainkan sewaktu kecil,
ular tangga kali ini benar-benar unik menurutku. Perangkat yang kami gunakan
saat bermain sama seperti permainan ular tangga pada umumnya, di dalamnya
terdiri dari gambar kotak-kotak yang nantinya akan dilewati setelah mengkocok
dadu, akan tetapi yang membuat berbeda adalah gambar kotak yang biasanya
digunakan bergambar kartoon, binatang, namun kali ini garis kotak-kotak itu
berisi banyak bacaan di setiap kotaknya, jadi kalo benda yang kita gunakan
berhenti di kotak tersebut maka pemain harus membacakan bacaan yang tertulis di
kotak tersebut. Isi bacaannya kurang lebih adalah “ STOP kekerasan antar umat
beragama !! mulai bertoleransi untuk menciptakan perdamaian” .dihari ketiga
kami diminta untuk mempresentasikan kampanye kreative yang sebelumnya sudah
kami buat perkelompok. Ada yang mempresentasikan kampanye creative berupa
puisi, karya tulis berupa berita, artikel, film documenter, games tebak gambar
via android, dan cetakan sablon. Kebetulan punyaku berupa video cuplikan foto
dokumenter yang diputar dengan music. Tidak
terasa sudah tiga hari kami mengikuti pelatihan. Waktunya kami untuk kembali
ketempat asal masing-masing.
Seperti sebelumnya aku sharing pengalaman pelatihan pada
adik-adik santri di pesantrenku, temna-teman kelas di kampus, teman-teman
diskusi kels, PMII, DEMA FUAD, juga pada teman-teman dekatku. Aku ingin mereka
juga mendapatkan pelajaran yang aku dapatkan selama pelatihan. Dari pelatihan
lanjutan ini aku mulai merasakan perubahan dari cara berfikirku, salah satu
contohnya saat aku berdiskusi di kelas ketika mata kuliah berlangsung,
kebetulan tema perkulihan berkaitan tentang aliran-aliran dalam islam, yang
tadinya pembahasan hanya berkutat pada histori kemunculan syi’ah, sunni,wahabi
dll serta banyak membicarakan perbedaan pemikiran serta knfliknya, pelan-pelan
ditengaj diskusi aku mulai memasukan nilai-nilai toleransi dengan cara
mengkajii kelebihan yang dimiliki
masing-masing aliran, mendiskusikan upaya untuk menjembatani perbedaan aliran
agar tetap jalan beriringan dan tidak memicu permusuhan. Aku mencoba mengajak
mereka berfikir alangkah indahnya perdamaian yang tercipta dari perbedaan,
sepertihalnya pelangi yang terdiri dari bebagai warna. Meski sebagian dari
merekaada yang sepakat dengan pemikiranku, namun satu dua diantara mereka ada
yang tetap fanatik dengan alirannya dan tidak mau mengalah dengan argumennya
bahwa aliran yang berpegang selain dari Al-Qur’an dan Sunnah itu sesat. Aku
faham tidak mungkin semua orang sepakat dengan pendapatku, wajar-wajar saja
jika ada yang masih demikian, kalo tidak ada justru diskusi tidak akan berjalan
dengan asik. Terkadang kita membutuhkan orang-orang seperti mereka yang fanatik,
alasannya karena dengan berdiskusi dengan mereka kita bisa mengetahui
pandangan-pandangan mereka tekait golongan diluar mereka. Sehingga nantinya
dengan sendirinya kita akan menemukan benang merah untuk mengupayakan agar
mereka dapat hidup berdampingan dengan yang lain.
Lain halnya perubahan cara berfikirku di pesantren. Perlahan
aku merasa ada yang berubah dari caraku memahami teks kitab kuning yang
berkaitan dengan fiqh khususnya rukun sholat, juga caraku menjelaskan pemahaman
fiqh terhadap santri-santri di pesantrenku. Awalnya aku hanya menjelaskan bahwa
gerakan sholat yang benar adalah gerakan sholat yang teksnya diredaksikan dari
kitab yang dipelajari di pesantren, seperti kitab safinah, sulamun taufiq,
mabadi fiqhiyah, dll. Dimana dijelaskan didalamnya menjelaskan kunut harus ada
pada rokaat kedua pada sholat shubuh, jika tidak dilakukan maka harus sujud
sahwi sebelum salam pada rokaat terakhir. dan gerakan menegakkan jari telunjuk
pada saat tahiyat awal dan akhir harus berada pada ujung lafadz “ asyhadualla ilaha illaAllah” . sekarang
aku mulai menjelaskan bahwa gerakan sholat pada dasarnya beragam adapun yang
kita pelajari di pesantren ini adalah yang kita yakini benar, namun diluar sana
banyak gerakan sholat yang berbeda dengan kita, dan hal tersebut tidak boleh
kita salahkan selagi mereka mempunyai dadilnya sendiri, karena hadits yang
menjelaskan tentang gerakan sholat sifatnya adalah umum mengacu pada ucapan
Nabi “ Shollu kama ro’aitumuni Usholli” sholatlah kalian sebagaimana kalian
melihat aku sholat. Dari hadis tersebut tejadi banyak versi dalam beberapa
gerakan sholat, salah satunya takbirotul ihrom ada yang mengangkat tangan ada
juga yang tidak, kunut pada rokaat kedua sholat subuh, mengangkat jari telunjuk
pada saat tahiyat awal dan akhir, dan ada juga yang mengangkat jari telunjuk
kemudian memutarkan jari telunjuk ke segala arah dan lain sebagainya.
Agenda
Ready berikutnya adalah Live in di Cigugur Kuningan dari tanggal tiga sampai
lima oktober 2015. Agenda kali ini tidak ada materi seperti sebelumnya, akan
tetapi lebih pada berbaur dengan masyarakat guna mengetahui rutinitas,
kebudayaan, tradisi, ragam Agama serta kepercayaan masyarakat Cigugur. Pagi
hari kami berkenalan dengan warga yang sedang berkumpul di emperan rumah, aku
melihat merka merakit gunungan dari bambu yang di isi dengan hasil panen
seperti padi, hasil kebun seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian seperti
kacang panjang, kancang tanah dan lain sebagainya.
Aku
membuka obrolan ringan dengan beberapa ibu-ibu, setelah mereka bercerita
ternyata gunungan yang mereka buat itu sebagai persiapan acara serean tahun
atau hari raya bagi penganut Sunda Wiwitan. beberapa warga lain juga melakukan
persiapan seperti membuat janur, merangkai bunga, membersihkan kendi,
mempersiapkan tarian-tarian tradisional sunda dan lain sebagainya. Mereka semua
nantinya akan berkumpul di Paseban untuk menyerahkan persiapan mereka. Satuhal
yang menurutku unik adalah warga yang ikut berkumpul untuk melakukan persiapan
bukan hanya dari warga yang menganut Sunda Wiwitan saja, akan tetapi banyak
dari mereka merupakan Muslim dan kristian. Ketertarikanku akan realitas ini
membuatku bertanya alasan mereka mau membantu perayaan hari raya Sunda Wiwitan.
Dengan santai mereka menjawab bahwa bergotong royong membantu persiapan Hari
Raya Sunda Wiwitan hampir setiap tahun mereka lakukan, begitu sebaliknya
masyarakat Sunda Wiwitan juga membantu persiapan acara hari raya agama lain. Alasanya karena mereka menganggap bahwa
perbedaan bukan halangan mereka untuk saling bergotong royong dan bertoleransi sesama
umat beragama.
Sore
hari kami di ajak ke Paseban oleh seorang bapak yang merupakan abdi di Paseban.
Disana kami melihat banyak kendaraan parkir di area paseban dengan berbagai
jenis plat luar kota. Setelah kami tanyakan ternyata mobil-mobil itu merupakan
kendaraan dari masyarakat penganut sunda wiwitan yang berasal dari seluruh
Indonesia. Mereka berdatangan untuk merayakan Serean Tahun. Kami berjalan kea
rah pemandian yang berada di tengah taman Paseban. Kami melihat beberapa wanita
sedang menaburi bungan dan sebagian menghias tangga menuju pemandian.
Wanita-wanita tadi mengenakan pakaian tradisional yakni samping batik yang
diputarkan di tubuh dan konde yang disematkan di rambut wanita-wanita tadi.
Beranjak
menuju prasmanan, aku bertemu dengan salah seorang penganut Sunda Wiwitan yang
berasal dari kota garut, usianya sekitar 40 tahun. Setelah aku mengobrol dengan
beliau tenyata meskipun bliau asal garut akan tetapi domisili di Amerika, dan
beliau sengaja datang ke Cigugur hanya
untuk merayakan Serean tahun, setelah itu kembali ke Amerika lagi. Dari beliau
aku mendapatkan informasi terkait Sunda wiwitan yang berdomisili di Negri paman
syam itu. Aku mendengar bliau mengatakan bahwa penganut sunda wiwitan di
Amerika sangat sedikit, bahkan bisa dihitung jari, akan tetapi semangat mereka
dalam melebarkan sayap dalam mengajarkan Sunda wiwitan sangat tinggi. Salah
satunya dengan cara membuka perguruan silat khas Indonesia, disisi ilmu silat
mereka turunkan kepada para muridnya, ajaran Sunda Wiwitan juga mereka ajarkan.
Kini padepokan tempat mereka melatih silat sudah dipenuhi oleh para
pengikutnya. Beliau juga menceritakan sedikitnya ajaran Sunda Wiwitan kepadaku
dan teman-teman. Beliau mengatakan bahwa Prasmana yang dihidangkan tadi bukan
semata-mata tanpa maksud, akan tetapi dari mulai nasi, lauk pauk serta lalapan
yang disediakan itu semuanya merupakan perwujudan Gusti, jadi ketika mau
memakan hendaknya permisi terlebih dahulu karena dari nasi dan lauk pauk itu
manusia tetap hidup dengan ruh yang diberikan dari apa yang dimakan tadi,
begitu beliau menjelaskan pada kami. Selain itu beliau juga menjelaskan tata
cara mereka beribadah dan masih banyak yang lainnya.
Malam
harinya kami kembali ke rumah warga yang menjadi tempat menginap kami. Di rumah
itu kami melanjutkan diskusi tentang apa yang kami temukan seharian tadi. Serta
membuat beberapa catatan kecil untuk dibicarakan keforum diskusi lanjutan saat
kami kembali ke daerah masing-masing.
Pagi
harinya kami harus bangun lebih awal dari biasanya, alasannya karena hari itu
merupakan puncak acara Serean tahun. Rangkaian acara pada pagi hari itu adalah
arak-arakan masal, dimana kita semua menaiki andong dan di arak keliling
Cigugur. Di bagian depan ada beberapa mobil bak tebuka dengan memuat alat-alat
musik tradisional dan di mainkan oleh beberapa pemuda, ada juga yang berisi
sejumlah gadis yang didandani ayu dengan tubuh dibalut samping batik dan konde
bunga melati. Arak-arakan ini dipimpin langsung oleh Romo Anom yang merupakan
tokoh panutan Masyarakay Sunda Wiwitan. disana Aku melihat antusiasme para
warga yang berdiri di tepi jalan sambil bertepuk tangan. Beberapa warga juga
ada yang menaiki motor lengkap dengan pakaian adat sunda. Para pemuda dan
anak-anak juga ikut meramaikan acara dengan membawa janur kuning dan memakai
ikat kepala khas sunda.
Sore
hari kami sudah kembali ke Paseban. Untuk menunggu persiapan acara puncak
pertunjukan seni yang akan digelar malam harinya. Ba’da Maghrib kami sudah
berkumpul di pelataran depan Cagar budaya Paseban. Semua warga Cigugur juga
ikut berkumpul, tidak perduli dari Islam, Kristen, Hindu, Buda, Ahmadiyah dan
Syi’ah, mereka semua bersorak meramaikan acara. Beberapa penari keluar dari
paseban menuju pelataran yang sudah dikelilingi warga. Para gadis yang akan
menari tersebut membawa kendi atau buyung yang dihimpit di bawah ketiak tangan
kananya, sedangkan jari tangan kirinya menjapit selendang yang di ikat pada
perutnya, nama tarian tersebut adalah tari Buyung.
Permaianan
lampu warna warni membuat kami hanyut dalam suasana klasik ala tahun tujuh
puluan. Kembali beberapa penari keluar dari pintu Paseban, kali ini layaknya
para srikandi mereka membawa seperangkat alat untuk memanah. Para srikandi
melingkar mengelilingi tugu di depan area Paseban. Mereka berlenggak lenggok
mengikuti irama yang keluar dari soundsistem di sudut Paseban. Beberapa saat
setelah itu acara inti yang bertempat di panggung utama mulai digelar. Tim
keamanan mulai bergerak mengondisikan area pelataran depan Paseban, yang juga
merupakan tempat berkumpulnya penonton di area depan Panggung.
Malam
mulai larut, lampu-lampu penerang satu persatu mulai dimatikan dan diganti
dengan lampu warna warni penghias panggung. Kursi-kursi tamu undangan sudah
mulai dipadati, sebagian dari keluarga Paseban juga sudah mulai telihat duduk
bersama para tamu undangan. Aku melihat ada bapak bupati garut Dedi Mulyadi
sedang berbincang-bincang dengan pimpinanan Sunda Wiwitan. sesaat setelah itu
bapak Dedi Mulyati naik ke atas panggung untuk mengisi acara. Bliau tenyata
menjadi dalang dari acara Wayang orang berbahasa sunda asli. Penonton merespon
dengan antusias, bahkan banyak yang tetawa sangat keras saat adegan lucu wayang
orang berlangsung. Dari derama wayang orang yang aku tangkap di dalamnya kurang
lebih menceritakan kehebatan prabu siliwangi, sunda wiwitan yang merupakan
……………
Sebulan
setelah itu aku dan temanku ditugaskan untuk meneliti masyarakat cigugur. Kami
berdua mencari tahu tentang pemenuhan hak-hak kewarganegaraan yang belum
tepenuhi di masyarakat sunda wiwitan, bentuk-bentuk diskriminasi kelompok lain pada
sunda wiwitan, serta lembaga apa saja yang sudah membantu dalam upaya pemenuhan
hak-hak kewarganegaraan. Dari data lapangan yang kami temukan, banyak dari
hak-hak kewarga negaraan yang belum tepenuhi, diantaranya hak untuk mendapatkan
pencatatan sipil seperti KTP, Kartu Nikah, dan Akte Kelahiran. Dalam hal ini
aku mewawancarai salah seorang warga sunda Wiwitan, dia mengatakan bahwa salah
seorang warga Sunda wiwitan memang ada yang mendapatkan akte kelahiran, akan
tetapi isinya hanya mencantumkan nama ibu tanpa mencantumkan nama Ayah dari
anak yang di lahirkan. Permasalahan KTP juga di ungkapkan oleh mereka,
masalahnya terletak pada pencantuman kolom agama pada KTP, sebagian kolom agama
di isi dengan agama ISLAM namun juga ada yang kosong tanpa identitas agama. Berbeda lagi dengan
akte nikah, beberapa warga yang ingin bisa memiliki akte nikah maka harus
menikah keluar Cigugur, karena pernikahan yang dibolehkan untuk penganut Sunda
Wiwitan harus menikah secara adat tidak boleh menikah secara Negara mengikuti
peraturan pemerintah setempat. Dari hal demikian maka banyak masyarakat Sunda
wiwitan yang menikah di luar kota. Bahkan lebih jauh beberapa ada yang memilik
untuk pindah Negara alasannya hanya di Indonesia yang pemerintahnya mengatur permasalahan
agama, hingga mendirikan kementrian agama.
Penelitian
berjalan selama kurang lebih dua minggu, poin yang kami dapatkan saat meneliti
di masyarakat Sunda wiwitan di Cigugur adalah permasalahan pencatatan sipil,
surat pengesahan rumah ibadah atau paseban yang selama ini diatas namakan cagar
budaya, dan pernikahan yang hanya boleh dilakukan secara adat. Kesemua
permasalahan itu sering kali dimusyawarohkan solusinya oleh para pemuka agama
sunda wiwitan, akan tetapi tetap belum ditemukan solusi kongkritnya hingga saat
ini. Dalam hal ini kami meneliti sekaligus mencari sumber permasalahan yang
menurut para masyarakat merupakan ulah beberapa oknum pemerintah. Kami
mendatangi kepala desa Cigugur dan mencari beberapa berkas sebagai bukti,
setelah kami mendapatkan bukti-bukti itu kami serahkan kepada lembaga FAHMINA
untuk ditindak lanjuti.
Sepulang
dari penelitian tersebut aku merasa memiliki beban moral selaku umat muslim,
bagaimana tidak, islam mengajarkan kita untuk perduli terhadap sesama mahluk
ciptaan Allah, melalui Nabi Muhammad, Allah membukakan mataku bahwa sifat toleransi
tidak memandang suku, ras dan agama.
Dulu Rasulullah menunjukan rasa toleransi terhadap pemeluk agama Yahudi,
Nasrani, para penyembah Berhala yang bertempat tinggal di Madinah dengan
mengeluarkan Piagam Madinah yang berisi “bagi kaum yahudi agama mereka, dan
bagi kaum muslim agama mereka . kebebasan ini juga belaku pada sekutu-sekutu
mereka masing-masing, kecuali bagi orang yang bebuat zalim dan jahat,
hukumannya hanya akan menimpa diri dan keluarganya. ” dari isi Piagam Madinah
tersebut Rasulullah menunjukan betapapun Islam bekuasa di Madinah saat itu,
akan tetapi tetap menghargai agama dan kepercayaan agama lain, dengan begitu
ajaran Islam yang Rohmatal lil alamin dapat dirasakan oleh semua ummat.
Kembali
aku dipanggil untuk menyeleseikan program membuat kampanye creative oleh READY.
Awalnya aku dan patnerku dari delegasi pesantren mengalami dilema dalam
menentukan kampanye creative apa yang dapat berpengaruh kepada para santri
minimalnya lebih besarnya masyarakat luas agar menumbuhkan Toleransi antar umat
beragama.
30
sampai 31 April 2016, aku beserta teman-teman dari IPPNU pusat yang
betempat di Jakarta mengadakan
pelatihan Film Dokumenter dalam rangka
menggali ide pembuatan Film Dokumenter, belajar cara menyuting serta cara
mengedite hasil rekaman video film yang akan dijadikan media kampanye creative
READY. Yang lebih substansial sebenarnya teletak pada pesan perdamaian yang
akan disampaikan pada film dokumente tersebut, agar para penonton dapat melihat
secara eksplisit pesan perdamaian tersebut dengan tanpa merasa jenuh saat
menonton. Kami juga membicarakan tentang durasi film documenter yang harus
disiapkan saat video tesebut di upload
di media youtupe. Sasaran dari kampanye creative berupa film dokumente yang
kami buat sebenarnya dalah anak usia sekolah hingga perguruan tinggi, karena
pada fase itulah pararemaja dan pemuda mempunyai emosional yang cenderung tidak
stabil, sehingga mudah teprofokasi oleh kelompok-kelompok radikal agama, oleh
karena itu kami befikir agar media intenet tidak hanya dipenuhi oleh
informasi-informasi yang profokatif
dengan mengatas namakan agama, sehingga memancing emosi masyarakat khusunya
para pemuda dan remaja, akan tetapi juga media akan dibanjiri dengan informasi
seputar pesan perdamaian.
Sepulang
dari pelatihan film dokumenter tesebut aku dan temanku mulai membuat naskah dan
alur critanya, kami memutuskan untuk membuat sebuah film dengan mengangkat
barongsai dan liong yang identik dengan agama konghucu. Mula-mula kami membuat
janji temu dengan pemuka agama Konghucu untuk meminta izin. Setelah di izinkan
kami mendiskusikan ide pembuatan Film
Dokumenter yang akan kami buat, sekaligus meminta pandangan beliau tekait film
kami. Beberapa gambar kami ambil saat wawancara dengan beliau. Bahkan saat
diskusi juga sempat kami rekam dalam bentuk video. Untuk bisa bertemu dengan
pemuka agama Konghucu kami karus berkali-kali menunggu di Kelenteng (tempat
ibadah agama Konghucu), hingga kemalaman , setelah kesekian kalinya baru kami
bisa bertemu dan berdiskusi.
Sehari
setelah dari kelenteng kami kembali membuat janji temu dengan pimpinan
barongsai dan Liong di daerah Cirebon.
Sama seperti sebelumnya kami meminta izin untuk membuat film, setelah itu kami
mendiskusikan lokasi, pemeran, dan waktu untuk shooting nanti.. Pimpinan
barongsai dan liong memberi saran tempat
yang akan digunakan sebagai lokasi shooting ada di IKMI Suaka Bahari, tempat
dimana para pemain barongsai dan Liong latihan. Waktu shooting senin sore
menyesuaikan waktu latihan barongsai dan liong, serta pemeran dalam film nanti
di bintangi oleh para pemain barongsai, dua diantara puluhan pemain merupakan
wanita, dan salah satu di antara keduanya itulah yang menarik perhatian kami,
selain dia seorang muslimah yang behijab, dia juga memahami arti penting
melestarikan budaya dan toleransi antar umat beragama, Nama gadis tersebut
adalah Neysya. Kurang lebih tiga hari kami mengambil rekaman video berisi
aktifitas latihan barongsai, keseharian Neysya sebagai muslimah yang taat
beragama. Kami mengambil gambar wanita tersebut sholat setelah selesei latihan
baringsai, dan teman-temannya yang beragama hindu, buda, konghucu dan Kristen juga
sering kali mengingatkan Neysya untuk sholat di saat selesei latihan. Selain
itu kami juga mewawancarai orang tua Neysya, teman-teman Neysya, dan tokoh
agama dari Islam dan Konghucu. Dari hasil wawancara mereka semua mengapresiasi
semangat Neysya dalam melestarikan budaya Barongsai dan liong. Meskipun Neysya
harus sering kali ikut serta memainkan barongsai pada ivent-ivent hari besar
konghucu di Kelenteng, namun menurut para tokoh agama hal tersebut tidak
menjadi permasalahan karena ikut mengisi acara bukan berarti ikut merayakan
serta meyakini kepercayaan agama lain.
Setelah
proses editing film documenter selesei kami baru memberi judul “ Tarian Naga
symbol perdamaian antar umat beragama” . beberapa minggu setelah itu kami
kembali diberi tugas oleh READY untuk mempresentasikan film tersebut pada 100
orang peserta jambore anak muda se wilayah tiga kuningan, yang bertempat di
bumi perkemahan Sidomba kota kuningan,. Peserta pada jambore beragam, Ada yang
merupakan delegasi dari pondok pesantren buntet, babakan Ciwaringin, kempek,
ada yang dari komunitas PELITA, PMII, IPPNU, Alang-Alang, Pemuda Ahmadiyah,
pemuda Syi’ah, Pemuda Sunda Wiwitan, Pemuda Kristen, Pemuda Hindu dan
lain-lain. Begitu juga dengan para pemateri yang mengisi acara didatangkan dari
beberapa agama, mereka mengkampanyekan nilai-nilai perdamaian anatar umat beragama.,
harapannya dari seratus pemuda yang hadir bisa menjadi agen penyebar perdamaian
yang nantinya akan disampaikan kepada teman-temannya masing-masing, selain itu
pemuda adalah harapan bangsa, jika pemudanya baik maka Negara kedepannya akan
lebih baik. Tim yang akan presentasi dengan hasil kampanye kreatif yang
berbeda-beda ada 6 tim. Adapun pembagiannya disesuaikan dengan denah posko yang
sudah disiapkan oleh panitia. tim pertama akan mempresentasikan hasil kampanye
krative beupa video musikalisasi puisi karinding, tim yang kedua sablon kaos,
tim yang ke empat grafity oleh pemuda sunda wiwitan, tim ke empat berupa video
sholawat perdamaian, tim kelima beupa Game tebak gambar perdamaian yang dapat
di download melalui playstore, tim keenam film documenter dengan judultarisn
naga symbol perdamaian antar umat beragama oleh aku dan teman pondokku yang
merupakan delegasi dari buntet pesantren Cirebon. Para peserta dibagi menjadi
enam kelompok. Setiap kelompok ditemani tutor untuk menyaksikan kampanye kreative
di posko-posko tempat tim kampanye creative, disana mereka mendengarkan,
berinteraksi dengan Tanya jawab dan terakhir memberi nilai untuk setiap
kampanye creative yang mereka lihat, cara demikian mereka lakukan di setiap
posko dengan bergilir. Posko tempatku cukup nyaman meskipun berada sedikit jauh
di atas dari tenda tempat kami bekumpul, dan banyak nyamuk karena tekesan
gelap. Akan tetapi saung tebuka dengan kondisi gelap akibat dedaunan justru
membantu kami dalam memutarkan film documenter, sehingga dapat jelas ditonton.
Malam
harinya panitia berencana mengumumkan hasil penilaian kampanye kretaive terbaik
dalam program READY, akan tetapi cuaca tidak mendukung, semua tempat terendam
air termasuk tenda karena hujan lebat. Tenda pengungsian yang tadinya merupakan
altenative kami untuk belindung ternyata ikut terendam dikarenakan hujan yang
mengguyur bukan hanya lebat, akan tetapi juga disertai ingin yang sangat
kencang. Kami semua tepaksa mengungsi di masjid Sidomba yang berada di bawah.
Dingin bercampur hangat saat aku mampu menggambarkan suasana hati kala itu,
bagaimana tidak dingin karena cuaca dan hangat karena rasa persaudaraan semua
peserta dan panitia yang timbul akibat
saling menolong satu sama-lain. Kami secara estafet mengoper barang-barang ke tempat
yang aman dekat tenda, setelah itu dengan belindung dibawah tutup kepala karpet
plastik kami bersama-sama merayap menuju masjid.
Pagi
harinya kami menampilkan aksi terakhir yakni panggung hiburan yang beisi
pertunjukan seni dari berbagai agama dan budaya. Meski cuaca masih gerimis,
tidak menyurutkan tamu undangan dari luar daerah untuk menyaksikannya. Hasil
penilaian yang kami nantikan dari semalam akhirnya diumumkan juga pada siang
harinya. Yang mana ketiga dari pemenang itu nantinya akan mempresentasikan
kembali pada jambore anak muda Nasional yang akan di adakan selama empat hari
dari tanggal dua puluh satu sampai dua puluh empat September dua ribu enam
belas di kawasan bumi perkemahan Sentul.
Kegiatan
jambore nasional diberi nama kemah pemuda Nasional Aktive Peace Camp National
Youth Camp (AKTIPIS Kamp). Peserta pada acara kali ini berasal dari komunitas
dan lembaga yang lebih banyak dari jambore sebelumnya, karena tidak hanya
berasal dari wilayah tiga Cirebon saja, akan tetapi ada dari tasik, bandung,
garut dan wilayah sekitarnya. Pada hari pertama kami diberi briefing oleh
panitia, isi briefing tersebut sekaligus menjawab latar belakang diadakannya
kegiatan ini, s tujuan yang akan dicapai dan output kedepannya, fasilitator
menyampaikan bahwa “ indonesia dikenal dan dibangun dengan keragaman suku,
budaya, etnis, agama, aliran kepercayaan, bahasa, pemikiran dan lain
sebagainya. Keragaman inilah yang memperkaya dan menjadi kekuatan perjuangan
Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan, meraih kedaulatan, dan mengupayakan
kesejahteraan. Dalam mengupayakan kemerdekaan Indonesia, peran pemuda tecatat
dalam sejarah bangsa sebagai hal yang sangat penting danmendasar. Pemuda
menjadi agen perdamaian dan pemersatu bangsa melalui sumpah pemuda 1928. Pemuda
menjadi actor penting dalam memperkuat kesatuan dan keutuhan bangsa, serta
mengelola perdamaian dan keragaman. Namun sangat disayangkan dalam beberapa
peristiwa intoleransi belakangan ini, pemuda jugalah yang menjadi actor digaris
depan. Pemuda memilih dalam kekerasan untuk menyikapi perbedaan. Oleh karenanya
penting bagi kita bersama untuk membangun kembali generasi muda yang toleran
dan mengedepankan dialog. Pemuda yang creative, berani, anti akan kekerasan dan
mencintai keragaman bangsa. Beberapa lembaga pengamat KBB mengatakan selama
beberapa tahun berturut-turut samapai 2015, jawa barat merupakan daerah yang
tingkat intoleransi tehadap keragaman agama dan keyakinan paling tinggi se
Nasional. Jelas kondisi ini dapat diubah apabila ada sekelompok orang yang secara
sadar dibumi Jawa Barat. Siapakah mereka yang bepotensi untuk mengerjakannya?
Pemuda. Kemah Pemuda Nasional 2016 yang bertemakan: Aktive Peace Camp (AKTIPIS
KAMP), lahir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Cita-cita lahirnya para pemuda
perdamaian antar umat beragam di Jawa Barat yang mampu membangun kesadaran
mengenai kebebasan beragama atau berkeyakinan melalui advokasi tehadap
pemenuhan hak-hak yang dimiliki oleh kelompok minoritas agama atau keyakinan,
sehingga kelompok tersebut dapat menikmati kesetaraan hak dimata hokum itulah
yang menggerakkan kami menyelenggarakan kegiatan ini. Nasional Active Peace
Camp merupakan kesatuan dari rangkaian kegiatan sebelumnya berupa training
READY di masing-masing wilayah, kampanye creative, serta kemah pemuda perwilayah.
Berdasarkan cita-cita tersebut, dalam Camp Nasional Active Peace yang di ikuti
enam puluh pemuda se jawa barat yakni para pemuda perdamaian yang merupakan
alumni pelatihan respect and dialog dan camp pemuda wilayah, para pemuda diajak
untuk membangun kesadarannya tentang kemerdekaan beragama dan berkeyakinan
(KBB) dan hak non diskriminasi dimata umum, meningkatkan keterampilannya dalam
melakukan advokasi melalui kampanye creative sebagai agen perdamaian active
(active peace agen) dimasing-masing wilayah, dan membangun jejaring antar
pemuda serta komunitas-komunitas di jawa barat untuk mendorong dilakukannya
kampanye creative dan advokasi bersama. Selama empat hari kedepan teman-teman
dapat belajar dan memperkaya pengetahuan serta pengalaman dengan individu atau
kelompok dan komunitas pemuda yang kami undang, seperti seniman-seniman film,
gambar, lagu atau music, video, ahli komunikasi, ahli hokum, peneliti, ahli kampanye kreative, dan lain sebagainya.
Selain itu teman-teman juga akan mendapatkan masukan berharga dari para ahli
untuk konsep kampanye creative yang telah teman-teman siapkan denganmatang.
Penilaian dan penjurian atas konsep kampanye creative teman-teman juga akan
dilakukan oleh para juri dan akan dipilih satu tebaik dari tiap wilayah. Konsep
kampanye creative yang menang akan menjadi kampanye creative yang dikejakan
bersama oleh teman-teman dimasing-masing wilayah, dan akan memperoleh dukungan
dana untuk kampanye creative. Kami beharap teman-teman bisa belajar,
bersenang-senag, berkreasi, dan berjejaring dalam dan setelah kegiatan ini.
Kami percaya teman-teman adalah pemuda perdamaian di bumi Jawa Barat dan bagi
Indonesia. Salam AKTIPIS CAMP!”
Setelah
fasilitator menyampaikan latar belakang, tujuan dan harapan dari kegiatan AKTIPIS CAMP dilanjut perkenalan antar peserta
dengan metode yang kucup unik menurutku, setiap peserta diminta untuk
menggambar symbol yang identik ada pada diri mereka masing-masing, jika sudah
selesei gambar yang mereka buat ditukar dengan teman disebelah kanannnya dan
temannya dan menjelaskan, setelah itu teman yg diberi gambar dan penjelasan
harus mempresentasikan satu-persatu dihadapan forum. Dengan metode demikian
peserta diharapkan mampu untuk lebih aktif berbicara. Selain itu, pesan yang
ingin disampaikan melalui metede perkenalan tersebut adalah pada saat ingin
menggali data dilapangan, hendaknya kita mencari sumber yang lebih autentik
yakni bertanya langsung pada orang yang bersangkutan, sehingga data yang
didapatkan lebih bisa dipertanggung jawabkan. Sharing menjadi penutup acara di
hari pertama, setelah itu kami kembali ketenda untuk menata barang bawaan kami.
Pagi
hari kami harus bangun jam lima untuk melaksanakan sholat subuh bagi kami yang
beragama islam dan joging bagi teman-teman yang beragama diluar islam. Setelah
kami selesei mandi dan sarapan kami kembali ke aula terbuka untuk mengikuti
materi pertama dengan
tema akses atas keadilan, namun sebelumnya beberapa dari kami diminta untuk
meriview kegiatan hari pertama. Akses atas keadilan (Access to justice)
merupakan hak setiap warga Negara tanpa membedakan strata social. Dalam hal
bantuan hukum bagi masyarakat tidak mampu, baik melalui anggaran yang dikelola
departemen hukum dan hak asasi manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam
undang-undang nomor 16 tahun 2011 tentang bantuan hukum, maupun anggaran yang
dikelola oleh Mahkamah Agung melalui lembaga peradilan yang ada dibawahnya,
baik peradilan umum, peradilan agama, maupun peradilan tata usaha Negara. Hal
tersebut bisa dilihat dalam peraturan Mahmkamah Agung RI Nomor 1 tahun 2014.
Bantuan hukum tersebut bukanlah usaha belas kasihan Negara terhadap kaum miskin
ataupun bantuan kemanusiaan, akan tetapi merupakan hak dari setiap warga Negara
untuk memperoleh keadilan , dengan tidak memandang jabatan dan kekayaan. Dikaitkan
dengan keragaman agaman di Indonesia tentunya akses atas keadilan tentu sangat
berperan jika salah satu dari agama atau kepercayaan di Negara kita mengalami
diskriminasi, ancaman atau penganiyayaan dalam kehidupan beragamanya maka sudah
seharusnya pemerintah memberikah hak keadilan yang mereka seharusnya peroleh
sebagai warga Negara Indonesia. Mereka bukan pendatang yang masuk Negara kita
secara illegal akan tetapi mereka diperlakukan seolah mereka penyusup yang akan
memporak porandakan negri ini. Tidak cukupkah mereka di pukuli masa, di seret
hingga dipertontonkan keluarganya saat di bantai habis-habisan oleh sekelompok
penyerang yang mengatas namakan agama. Mereka adalah penduduk pribumi yang
seharusnya dilindungi, dijamin hak ketentraman hidupnya. Anak-anak mereka tidak
bisa sekolah karena di buli oleh teman-teman bahkan guru mereka, sebagian rumah
ibadah mereka dilempari batu, dan terancam dirobohkan. Menutup mata dan berlaga
seolah tidak terjadi apa-apa adalah sikap apatis yang seing kali menjamur di
masyarakat. Mungkin pemikiran yang muncul adalah mencari aman dengan bepihak
mada kelompok mayoritas dan yang penting itu tidak terjadi pada salah satu
keluarga mereka para masyarakat. Padahal disadari atau tidak mereka adalah
bagian dari kita keluarga besar masyarakat Indonesia.
Terik
matahari berada tepat di atas kepala, waktunya ISHOMA dan kunjungan ke both
AKTIPIS. Setelah selesei istirahat berlanjut ke aagenda selanjutnya yaitu peran
jarigan dalam resolusi konflik. Dalam sesi kali ini, kami berdiskusi
tentang peran jaringan, maksudnya adalah
ketika kita akan melakukan advokasi kasus dilapangan tekait ketidak adilan yang
dialami kelompok agama atau kepercayaan tetentu strategi apa yang harus kita
lakukan dan seberapa besar pengaruh jaringan dalam menuntaskan kasus tersebut. Advokasi
tebagi atas dua aspek, pertama advokasi di luar pengadilan adapun strategi
penyelesaian yang diperlukan antara lain menggunakan cara Mediasi,
bermusyawaroh dengan adanya mediator/penengah. Mediator berhak mengeluarkan
penyeleseian. Apabila ada pihak yang tidak setuju maka penyeleseian itu tidak
belaku. Kedua, dengan cara Negosiasi, tawar menawar antara dua pihak. Cara
ketiga adalah Lobi, upaya menyamakan kepentingan melalui pertemuan-pertemuan
tidak resmi. Cara ke empat kampanye, mencoba mempengaruhi pendapat/ pandangan
masyarakat melalui berbagai media. Missal: spanduk, stiker, selebaran dan
lain-lain. Cara kelima Pengorganisiran, mengumpulkan, menumbuhkan kesadaran
agar suatu kelompok masyarakat mau bergerak (melakukan advokasi). Cara keenam
Advokasi kebijakan, upaya mengubah, menghilangkan atau membuat kebijakan baru.
Cara ketujuh Aksi, tindakan penekanan seperti demonstrasi, mogok, boikot. Cara
ke delapan Testimoni, memberikan kesaksian tentang apa yang dialami. Missal
menyaksikan buruknya system pemberangkatan buruh migrant didepan DPR. Cara
kesembilan Pemantauan, mengamati dan mencatat kondisi tentang sebuah isu/
kasus. Cara kesepuluh Penyebaran laporan pemantauan, menyebarkan hasil
pemantauan agar diketahui banyak orang. Dan cara yang teakhir adalah Pendidikan
ke Korban.
Adapun
advokasi berikutnya melalui Pengadilan. Pengadilan di Indonesia mempunyai tugas
dan wewenang masing-masing. Jika kita salah masuk maka kita tidak akan diterima
dipengadilan tersebut. Fasilitator menguraikan beberapa pengadilan yang dikenal
di Indonesia dan wewenangnya, yang pertama Mahkamah Konstitusi (MK) : Menguji
Undang-Undang (UU No. 24 Tahun 2003) ke dua ada Mahkamah Agung (MA): Menguji
peraturan dibawah Undang- Undang, Mengadili kasus dari tingkat pertama untuk :
kasasi dan peninjauan kembali. Ke tiga Pengadilan Tingkat Pertama, tebagi atas
empat pengadilan: pengadilan Negri (PN),
Pengadilan Agama (PA), Pengadilan Militer (PM), dan Pengadilan Tata Usaha
Negara (PTUN). Adapun Pengadilan yang ke tiga adalah pengadilan di Lingkup PN,
terbagi menjadi empat pengadilan: Pengadilan Hubungan Industrial(PHI),
Pengadilan Niaga, Pengadilan Perikanan, Pengadilan Tipikor. Demikian jenis
Pengadilan yang ada di Indonesia yang dijelaskan oleh fasilitator. Adapun fungsi adanya jaringan adalah untuk
menindaklanjuti kasus apabila tidak bisa ditempuh melalui jalur formal maka
bisa dengan menggunakan jaringan maksudnya adalah mendekati orang-orang
pemangku kebijakan dan lembaga tekait yang bisa membantu menyeleseikan
permasalahan. Matei ini dibagi menjadi dua sesi. Siang dan sore setelah itu
ISHOMA.
Ba’da
sholat maghrib kami disajikan dengan Workshop cukil kayu. Kesenian yang masih
terbilang langka karena belum familiar dikalangan seniman muda. Masing-masing
peserta sebelumnya sudah dihimbau untuk membawa kaos polos yang nantinya akan
disablon. Bukan hanya sekedar menyablon, disini peserta diminta untuk
bersama-sama belajar cara menyablon Cukil dan di beri media untuk bahan-bahan menyablon, yang tak
kalah creative mereka menggunakan sablon cukil ini untuk menuliskan kata-kata
atau gambar yang mengajak perdamaian. Sehingga orang yang melihat atau membaca
sablon yang ada pada kaos tersebut akan menerima pesan perdamaian secara
reflek.
Malam
harinya kami diajak nonton bareng film timur tengah. Awalnya kami sempat kaget
menyaksikan tayangan segerombol ibu-ibu dengan balutan busana hitam pekat, ada
yang berjilbab, ada yang teurai rambutnya membawa salib di tangannya, ada pula
yang membawa bunga dan bingkai foto dikalungi bunga. Suasana area pemakaman
timur tengah dan nyanyian keputus asaan yang disenandungkan serentak membuat
kami heran melihatnya. Film yang diputar kurang lebih dua jam itu bercerita
tentang sekelompok masyarakat di kawasan pelosok desa timur tengah sebagian
beragama Islam sebagian lagi beragama Kristen mereka hidup berdampingan dan
saling menolong satu sama lain, tempat ibadah mereka juga letaknya
berhadap-hadapan. Semakin lama kaum pria sering kali membesar-besarkan konflik
jika berhadapan dengan golongan yang berbeda agama namun para wanita atau
istrinya selalu mereda agar konflik tidak berkelanjutan bahkan para wanita
bersedia memanggil wanita penghibur untuk menari di kedai coffy agar para pria
atau suaminya lupa akan perselisihan antar agama tesebut, sedangkan kaum wanita
sibuk mengambil senapan yang ada di rumah mereka masing-masing lalu menguburnya
dalam-dalam, dengan harapan saat mereka saling serang tidak tejadi pertumpahn
darah dengan senapan. Hingga suatu ketika ada salah satu pemuda yang tebunuh
akibat pluru senapan yang salah sasaran dalam peperangan yang tejadi di luar
desa mereka, saat pemuda itu melewati daerah konflik hendak pulang dari pasar.
Ampai dirumah sang ibu justru memandikan mayatnya dan menyembunyikan di bawah
sumur dengan cara menurunkan jasadnya melalui timba air, beberapa hari bejalan
banyak teman-teman yang mencari pemuda itu, akan tetapi sang ibu merahasiakan
dengan alasan agar tidak menjadi konflik antar agama yang nantinya menimbulkan
korban. Sang ibu rela menahan pahitnya menyembunyikan rahasia kematian anaknya.
Hingga pada suatu ketika kakak sang pemuda mendesak ibunya untuk member tahu
dimana anak tersebut berada, sang ibu menjawab bahwa anaknya adadikamar dalam
konsidi sakit cacar dan tidak bisa ditemui. Setelah itu sang kakak memaksa
ibunya untuk membukakan pintu kamar sang adik, dengan ekspresi ketakutan sang
ibu membukakan kamar anaknya yang sudah hampir satu minggu dikunci. Betapa
terperanjaknya sang kakak saat tau adiknya tidak ada dikamar, hanya gundukan
selimut yang beisi bantal guling. Sang kakak
berubah menjadi garang dan langsung membentak ibunya, dia menanyakan prihal
kematian adiknya. sang ibu spontan mengambil senapan dan menembakkan ke kaki
sang anak. Setelah anaknya jatuh sang ibu menangis dan meminta maaf. Beliau
menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukannya semata hanya karena mencegah agar
informasi kematian sang adik tidak diketahui warga karena nantinya aka nada
aksi saling bunuh antara agama islam dan Kristen karena kesalah fahaman ini.
Sebagai endingnya para ibu-ibu memberikan obat tidur dengan dosis tinggi pada makanan yang disajikan pada pesta malam
harinya. Ketika para laki-laki bangun, sang istri memberikan penampilan yang
berbeda dalam segi busana dan rutinitas agama lain, dari yang muslim berubah
mengenakan pakaian beribadahnya orang Kristen dan sebalinya bahkan orang
Kristen menjadi berkerudung dan sholat dihadapan suaminya masing-masing, para
wanita itu mengatakan bahwa jika mereka ingin membunuh atau memusuhi musuhnya
maka hendaknya mereka membunuh dan memusuhi dirinya, karena mereka sekarang
sudah merupakan bagian dari musuhnya. Kaum laki-laki sudah mulai sadar akan
kekeliruan mereka selama ini dalam memandang agama lain. Mereka perlahan sudah
menggeser cara berfikirnya dan sudah mulai berdamai. Sang ibu yang anaknya
meninggal tadi sudah bisa membuka rahasianya kepada penduduk dan pada ahirnya jasad
sang anak dipindahkan kepemakaman umum dan di saksikan oleh semua warga. Demikian
film yang kami tonton. Sangat mengena pesan perdamaian yang disampaikan. Kami
menonton dengan suasana haru, sekaligus malu, karena selama ini kami menganggap
bahwa pemeluk agama laian adalah orang asing yang harus dijauhi karena
berbahaya bagi keyakinan kita terhadap agama kita masing-masing. Akan tetapi
realitanya berbeda, mereka sama seperti kita dalam hal mahluk social dan
mempunyai naluri kemanusiaan yang sama. Jika kita ingin diperlakukan baik oleh
mereka maka berbuatkan baik pada mereka, jika kita ingin mereka ramah dengan
kita maka mulailah bersikap ramah pada mereka.
Pagi
hari adalah hari terakhirku dan teman-teman peserta mengikuti acara AKTIPIS
CAMP di sentul, karena hari berikutnya kami akan ke Jakarta untuk mengunjungi
gereja Katedral dan Majid Istiqlal. Dihari terakhir ini kami memulai aktivitas
dengan menjelajah alam di bukit sentul, setelah itu mengikuti materi dengan
tema Logika dasar komunikasi dan bisnis Plan dalam kampanye creative. Pada
kesimpulannya bisnis plan yang dikaitkan dalam kampanye creative ini ingin
membuka paradikma para aktivis perdamian untuk belajar mencari penghasilan
dengan cara creative, selain menyebar nilai-nilai perdamaian di media social
seperi posting gambar-gambar, meme perdamaian juga disertai pencarian followers
agar akun yang kita miliki juga bisa menghasilkan uang untuk menunjang
kebutuhan hidup kita sehari-hari. Hari terakhir ini ditutup dengan pertunjukan
seni dariberbagai daerah serta pengumuman kampanye creative yang masuk seleksi
tingkat Nasional.
Perjalanan
menuju gereja Katedral sudah kami tempuh sebelum cahaya matahari telihat
sempurnya. Dalam gereja tersebut aku merasakan nuansa yang tidak bisa,
bagaimana tidak ini untuk pertma kalinya aku memasuki gereja seumur hidupku .
asap kemenyan mengepul di sudut pintu masuk gereja, beberapa patung Yesus dan Bunda maria menenteng diberbagai
sudut gereja. Aku ikut duduk di deretan kursi dan merasakan sensasi melihat
orang-orang kristian berdoa. Jauh di memory otakku merasa pernah melihat
rutinitas seperti ini dimana ya. Ternyata dulu waktu MTS aku pernah membaca
buku-buku kristian di Gramedia. Setelah aku keluar dari gereja baru aku
menyadari bahwa tidak ada apa-apa didalam, sama sekali tidak merubah
kepercayaanku pada Allah. Justru sebaliknya, aku semakin yakin pada Allah,
lebih dari mereka meyakini Tuhannya. Ternayata mereka yang bekata masuk
ketempat ibadah agama lain itu bisa terseret kedalam keyakinan mereka itu SALAH
menurutku.
SEKIAN……:)
Dari Santri Untuk Perdamaian Antar Ummat Beragama
SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL 22 OKTOBER 2016
Post a Comment