By :
ALIEF
Dalam opini kali
ini pembaca di ajak untuk sedikit menyimak term "buaya" dalam ma'na
majazinya. Buaya adalah binatang yang terkenal dengan kebuasannya dalam
menangkap mangsa. Kata " buaya " digunakan oleh masyarakat sebagai
simbol kekejaman seorang laki-laki terhadap perempuan, yang biasanya
dilampiaskan dalam bentuk seksualitas meskipun terkadang yang terlintas dalam
fikiran banyak orang kekerasan terjadi dalam bentuk fisik. Namun kategori
kekerasan yang penulis angkat terbagi menjadi dua yang pertama kekerasan fisik
dan yang ke dua kekerasan non fisik begitupun stigma mengenai buaya tidak hanya
ditujukan kepada laki-laki akan tetapi juga ditujukan pada orang-orang yang
berkepentingan(negatif).
Mungkin pembaca
akan sedikit bertanya-tanya mengenai judul yang penulis sajikan. Apa kaitan
antara kupu-kupu dengan buaya. Atau mungkin sekedar bertanya bukankah keduanya
hidup di dunia yang berbeda. Disini penulis akan sedikit memaparkan latar
belakang pemikiran penulis akan judul tersebut.
Berangkat dari realitas,
adanya "kupu-kupu" yang terorganisir, tersistem dan bahkan terstuktur
tentu karena didalamnya terdapat orang-orang yang berkepentingan.
Ditengah-tengah
peradaban kota yang terbilang maju akan teknologi dan pendidikan, terkadang
kita tidak menyadari bahwa produk kapitalis telah menggerus pasar perdagangan
lokal sehingga menimbulkan dampak negatif yang juga jarang di ekspos dalam
media masa. Mungkin pembaca merasa aneh, ada apa dengan produk kapitalis. Apa
korelasinya dengan " eksploitasi tubuh wanita".
Sejenak kita
teliti, sebagian dari produk kapitalis menggunakan trik untuk menarik perhatian
konsumennya dengan menggunakan tubuh wanita. Dari mulai produk kecantikan
hingga produk elektronik yang kerapkali memunculkan nuansa ektronik tubuh
wanita sebagai daya tarik para konsumennya.
Adanya alat
elektronik yang bersifat pasif (seperti vcd,dvd, tv,dsb) maupun aktif (seperti facebook,
bbm,dsb) yang memfasilitasi masyarakat mulai dari usia dini hingga lanjut usia juga
menyebabkan masyarakat dapat dengan mudah mengakses internet yang sudah
terkontaminasi dengan berbagai bentuk eksploitasi tubuh wanita.
Sempel yang sering
kita temuan di lapangan, penyalagunaan
tubuh wanita dalam bentuk iklan sering kali digunakan oleh para
distributor produk kapital untuk memasarkan produknya, sehingga menyeret
persepsi masyarakat mengenai steriotipe wanita cantik adalah wanita yang berkulit putih, mulus berbadan tinggi dan sexy. Padahal hal tersebut bertentangan
dengan budaya lokal yang sudah terbentuk sebelumnya. Dan dampak negatifnya
dapat meng anak tirikan wanita dengan kategori sebaliknya.
Dilema post modern
seakan mengembalikan kultur budaya jauh sebelum Nabi Muhammad SAW. Mendobrak emansipasi
wanita pada masanya. Dimana seorang wanita sama sekali tidak bernilai
keberadaannya, bahkan keluarga yang melahirkan anak perempuan di anggap sebagai
suatu kesialan. Hingga imbasnya banyak wanita yang di kubur hidup-hidup untuk
menutupi keberadaannya meskipun masih ada segelintir wanita yang dihormati
namun hanya kasta tertentu. Menyentuh pada pembahasan eksploitasi pun juga
marak terjadi pada masa jahiliah, bahkan sudah menyatu dengan budaya. Sehingga
tidak aneh di jumpai banyak wanita yang berbusana vulgar (hanya menggunakan
pakaian yang menutupi bagian tertentu)yang melayani banyak laki-laki di
rumah-rumah tertentu, entah hanya menjadi wanita penghibur(penari) atau lebih
dari itu. Hal tersebut jika ditarik dalam konteks post modern tentu tidak jauh
berbeda. Kita lihat di Negara-negara tertentu yang menjadikan wanita sebagai
objek yang dianggap oksotis untuk memajukan berbagai sector, baik media
hiburan, pariwisata, politik ataupun bisnis bahkan sudah menjadi suatu
kebudayaan dan dilindungi oleh negaranya.
Dibelakang kisah
memilukan wanita dari era jahiliah hingga post modern sekarang ini, tentu tidak
lepas dari para pemilik kepentingan(buaya), yang dalam hal ini dimainkan oleh
kaum laki-laki identiknya, meskipun tidak jarang dalang dari semua kejadian
(eksploitasi wanita) adalah kaum wanita itu sendiri. Para buaya selalu ada
dalam setiap era peradaban manusia dengan
berbagai kedok yang kadang kita sendiri tidak mengenal watak aslinya. Oleh
karena itu penulis menyarankan para pembaca untuk tetap berhati-hati dalam
menyelami kultur yang semakin hari semakin menjajah manusia kembali seperti
sedia kala. Manusia berprilaku tergantung pada perkataannya dan manusia berkata tergantung pada
pemikirannya. Hal tersebut menunjukan bahwa "pornografi/ porno aksi"
yang marak terjadi bisa dihindari dengan adanya mainset yang positif. Jika
mainset porno sudah terbentuk dalam fikiran seseorang maka bagaimanapun objek
yang dia liat entah itu tertutup ataupun terbuka akan menimbulkan kesan sama
yang berdampak negative. Oleh karena itu, seiring perjuangan kita dalam
meminimalisir tindak kejahatan (eksploitasi tubuh wanita) kita terlebih dahulu
harus membenahi mainset yang salah dalam diri kita dan orang-orang sekitar kita,
agar ketika kita melihat hal-hal yang bersifat eksploitasi tubuh wanita kita
tidak langsung tergerus didalamnya, dalam arti kita tidak terlena saat
melihatnya apalagi langsung menjustifikasi buruk si pelaku, karena penulis
berasumsi bahwa dibalik perbuatan yang terlihat buruk dimata kita tentu dibalik
itu ada seseorang yang berkepentingan yang luput dari pandangan kita, karena
kita hanya focus dengan pelaku.
Post a Comment