Pengantar Filsafat Islam, Arab, Muslim dan Al-Qur’an




           
            Pada pembahasan kali ini penulis mencoba memaparkan tentang metode atau epistimologi yang digunaka oleh Filsafat islam. Epistimologi yang digunakan oleh ilmu filsafat ada dua yang pertama idealism atau kerennya rasionalism yaitu suatu aliran pemikiran yang lebih menekankan pada pentingnya peran “ akal, idea, kategory. Front”, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dan yang nomerdua adalah Realism atau empiricism yang lebih menekankan pada peran “ indra”(sentuhan, penglihatan, penciuman, pencicipan, pendengaran” sebagai sumber sekaligus sebagai alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
            Kedua epistimologi tersebut pada awalnya bersiteguhan mempertahankan keyakinan masing-masing, yang kadang-kadang sangat eksklusif, sehingga para pengamat dapat melihat kekurangan argumen yang terkandung di dalamnya baru-baru ini.
            Selanjutnya penulis menerangkan bentuk pemikiran aristoteles yang secara jelas berbeda dengan bentuk pemikiran plato. Aristoteles beranggapan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan sudah membawa ide-ide yang diperolehnya saat ia belum dilahirkan. Sedangkan plato beranggapan bahwa manusia lahir dalam keadaan tidak membawa apa-apa dan tidak mempunyai ide apapun. hal tersebut penulis perjelas dengan firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.( Qs: 16:76).” Tentu saja disini pemikiran plato mempunyai kelemahan dibanding teori plato. Plato lebih condong mengakui adanya dunia” idea” yang berada diluar benda-benda yang konkrit( empirik), maka Aristoteles tidak mengakui adanya dunia tersebut.Aristoteles menyebut proses (empirik) sebagai proses Abstraksi.
            Hubungan antara Filsafat Islam dengan epistimologi adalah hal yang tidak dapat dinafikan lagi karena sejarah membuktikan mata rantai perkembangan sejarah islam dari sejak periode abbasiyah hingga hingga bermuara pada Ibnu Tufail, adalah proses asimilasi dan akulturasi budaya Islam dan Yunani. Islam memberikan corak keilmuannya yang tidak di temukan  dalam yunani seperti kontribusi penalaran Al-Qur’an, filsafat kenabian dan masih banyak yang lainnya. Penlis menambahkan “ Akan tetapi Meskipun para filsof Muslim telah memperkenalkan filsafat profetik yang orisinal pada dunia, tetapi dalam hal persoalan-persoalan seputar epistimologi pengaruh pemikiran yunani itu masih sangat kental. Plusminusnya rumusan filsof Yunani dalam bidang epistimologi terdapat pula dalam tubuh filsafat islam”.
            Selanjutnya penulis memaparkan “ Dalam dunia pemikiran islam, setidaknya ada dua corak sterotype pemikiran epistemologi seperti yang telah terurai dalam pemikiran Arisoteles dan plato. Yang pertama adalah corak pemikiran platois dan yang kedua adalah Neoplatois yang lebih menekankan kurang bermaknanya pengetahuan indrawi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan indrawi manusis untuk memperoleh ilmu pengetahuan yangsjati, dan lebih cenderung untuk berpegang teguh pada dunia idea yang abstrak intelektualistik ahistoris.
            Dalam sejarahnya yang lebih lanjut ternyata epistimilogi tidak hanya berkubang mana yang lebih domonan antara kedua sumber pengetahuan rasionalis dan empiris. Hal tersebut terjadi ketika kedua epistimologi tersebut mengalami puncak kejayaannya. Immanuel kant muncul untuk mengkritiki dan meluruskan sikap eksklusif kedua arus pemikiran yang bersifat antagonis tersebut. Selain itu penulis juga memperjelas dengan argumen yang dikemukakan immanuel kant melihat kegagalan rasionalisme yang berujung pada pemikiran metafisika spekulatif christian wolff. Pemikiran rasionalisme dalam epistimologi ternyata merembes kedalam wilayah metafisik,hal tersebut ditentang oleh kant karena dianggap telah melampaui batas nalar manusia.

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © berbagi cerita. Designed by OddThemes