Dear pembaca
blog ”Berbagi Cerita”. Sore ini saya akan berbagi tentang materi kuliah hari
jum’at (05 09 2014 9:51) kemarin. Kebetulan mata kuliah yang saya ikuti adalah
Tafsir Aqidah Ahlak, yang di bimbing oleh Bpk Slamet Firdaus, M.Ag.Tema
besarnya adalah Tuhan menurut perspektif umum. Sedangkan spesifikasi judul yang
diusung adalah Tuhan Menurut Perspektif Al-Quran. Sebelum masuk pada
penyimpulan, terlebih dulu kita mengadakan diskusi bareng teman-teman dan diisi
oleh pemateri yang bertugas menyampaikan isi makalah. Dalam diskusi kami
temukan banyak hal diantaranya adalah semua agama mengakui adanya kekuatan
supranatural yang berkuasa yang menciptakan dan mengatur jagat raya. Akan
tetapi masing-masing agama mempunyai cara yang berbeda-beda dalam
mengaktualisasikannya. Sebut saja agama kristen, mereka condong memaknai Tuhan
dengan sosok manusia. Lain halnya dengan agama Islam, para penganut agama Islam
meyakini Tuhan Adalah Sesuatu Dzat diluar Mahluk. Bahkan ada sebagian agama
yang tidak mau memberi argumen mengenai Tuhan.
Diskusi terus
berjalan dengan ramai. Mempeributkan apakah benar bahwa semua agama sudah pasti
mengakui adanya Tuhan. Salah satu teman dari semester atas yang mengatakan “Semua
agama pasti mengakui Tuhan”. Saya mencoba mendebat pernyataan tersebut
berdasarkan pengalaman saya mengikuti kunjungan di vihara yang ada di cirebon. Disana
saya dan teman-teman bertemu bahkan berdiskusi dengan seorang Romo[1],
beliau memaparkan sedikit mengenai konsep agama Budha. Salah satunya adalah
Agama Budha tidak mempercayai adanya Tuhan. Mereka hanya mempercayai adanya
dewa sebagai sosok manusia yang berbudi luhur dan dianggap sebagai orang suci
yang di hormati. Dan adanya mereka mendatangi Vihara kemudian memuja-muja,
sebenarnya adalah ritual penghormatan bukan menyembah. Itulah penjelasan yang saya
dapat dari mreka.
Salah satu dari teman kami mencoba menjawab
dengan argumen “Agama pada hakikatnya terdiri dari dua aspek yang pertama
adalah agama samawi dan yang kedua adalah agama ardhi. Bisa jadi perbedaan yang
sedang teman-teman perdebatkan dikarenakan perbedaan perspektif. Agama-agama
yang memiliki Tuhan adalah Agama Samawi sedang sebagian agama yang tidak
memiliki Tuhan Adalah agama ardhi” paparnya dengan penuh semangat. Lama kami
berdebat sesosok teman muncul dari balik pintu yang sedari tadi tertutup
sedikit. Dia membawa berita bahwa dosen berpesan kalo pagi ini jadwal mata
kuliah Tafsir Aqidah Ahlak pindah jam tayang.....Hadewwwhhh....Sepontan
teman-teman kesal dengan sipembawa berita. Karena dari jam setengah delapan
pagi kami menunggu dengan berdiskusi. Karena memang seharusnya jam setengah
delapan. Selanjutnya kami hanya bisa menunggu hingga beliau datang.
Setengah jam
berlalu. Terdengar langkah kaki perlahan memasuki ruangan. Terlihat jelas
sesosok laki-laki separuh baya, rambutnya memutih dan kedua matanya terlihat
lelah. Namun senyum tetap mengembang di wajahnya. Beliau adalah pak Slamet
Firdaus dosen yang sedang kita nantikan sejak pagi tadi. Beliau masuk menenteng
tas coklat dengan kancing besar dibagian depannya ala taun 70an.
Setelah beliau
membuka dengan salam, beliau melanjutkan dengan menanyakan sejauh mana
pemikiran teman-teman saat berdiskusi. Kami menceritakan kesulitan-kesulitan
yang belum sempat terpecahkan saat berdiskusi diantaranya adalah mengenai kata
“ربّ” kenapa kata itu yang terlebih dulu di
sebutkan dalam Al-Quran. Disusul pertanyaan Sebenarnya makna Tuhan secara
global itu seperti apa. Beliau hanya mengangguk dan tersenyum mendengarkan
rentetan pertanyaan yang kami kemukakan sejak tadi.
Perlahan
beliau mulai menyimpulkan. Beliau berkata “Lafadz “, الله اله dan ربّ" kesemuanya adalah lafadz yang ma’rifat (khusus).
Kemakrifatan yang terjadi pada lafadz Allah dikarenakan lafadz Al. Sedangkan
pada lafadz Robbi dan lafadz ilahi itu pasti dengan di idhofahkan pada lafadz
selanjutnya. Karena tidak akan ada lafad robbi dengan ilahi yang tidak di
idhofahkan”. Papar beliau dengan tegas.
Setelah itu
beliau melanjutkan dengan memaparkan tentang misteri lafadz “ربّ”. Kenapa dalam Al-Quran lafadz robbi yang terlebih dahulu
disebutkan dibanding lafadz Allah. Contohnya dalam surat Al-Alaq. Surat yang
pertama turun berbunyi:
اقر أباسم ربّك الذّى خلق ( Q.s Al-Alaq : 1). Karena sebenarnya adanya indikasi tersebut
bertujuan menciptakan stimulasi kepada manusia untuk berfikir. Selain itu kata
“Allah” sengaja dihindari pada awal penyebutan dikarenakan untuk memurnikan
dari kata “Allah” yang dari zaman jahiliyah sudah terkontaminasi oleh
orang-orang yang menyembah terhadap berhala. Penyebutan yang mereka pergunakan
sebagai sesembahan adalah kata “Allah”. Hanya saja untuk membedakannya
orang-orang islam khususnya para ahli tajwid menggunakan tasdid ( ّ ) sebagai identitas Allah yang dimaksud
adalah Tuhannya orang-orang Islam. Dan pengucapan lafadz Allah juga masih
terbilang global ditujukan untuk semua agama. Sedangkan jika dikhususkan pada
agama islam maka harus menyempurnakan dengan lafadz “ ا حد االله” dan lafadz “ الله صمد “.
Menelisik ayat pertama dalam
surat Al-Ikhlas yang berbunyi:
قل هو الله احد “ Katakanlah Dia-lah Yang Maha Esa.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum
musyrikin meminta penjelasan tentang sifat-sifat Allah kepada Rasulullah saw.
dengan berkata: "Jelaskan kepada kami sifat-sifat Tuhanmu." Ayat ini
(S. 112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai tuntunan untuk
menjawab permintaan kaum musyrikin. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim
dan Ibnu Khuzaimah dari Abi Aliyah yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab.
Diriwayatkan pula oleh at-Thabarani dan Ibnu jarir yang bersumber dari Jabir
bin Abdillah dan dijadikan dalil bahwa surat ini Makkiyah.)
Beliau melanjutkan dengan mengurai maksud dari
ayat ke 3 dari surat Al-Ikhlas yang berbunyi: لم يلد
ولم يولد
Yang mana ayat tersebut bermaksud merespon para penyembah latta
dan uzza yang beranggapan bahwa Tuhan mempunyai anak.
Adapun lafadz
“Bismillah” pertamakali disebutkan dalam permulaan surat Al-fathikhah. Dan
kemudian menjadi pemisah antara surat-surat pendek yang ada dalam juz 30.
Sebagai penutup
beliau mencoba memancing kita untuk beranalogi dan menguras fikiran. Bliau
berkata “ Iblis pada hakikatnya lebih bertauhid dibanding manusia. Hal tersebut
terbukti ketika iblis berdialog dengan Allah di surga, ketika Allah
memerintahkan iblis untuk sujud kepada nabi Adam, akan tetapi iblis tidak
mematuhiNya.
واذ قلنا للملئكة اسجدوا لأدم فسجدوا
الّا ابليس ابى وستكبر وكان منالكفرين ( 34)
34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
"Sujudlah[2]
kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan
takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
|
” Beliau juga menambahkan” Iblis itu
beriman meskipun kafir”. Dari crita tersebut dapat disimpulkan, kafirnya iblis
disebabkan tidak mematuhi perintah Allah bukan tidak mengimani adanya Allah.
Berarti manusia dan hamba Allah lainnya ketikamengalami kasus serupa dalam
artian tidak mematuhi perintah Allah maka dikatakan kafir. Seperti contoh:
لاانشكرتم ولاازدنكم ولاانكفرتم ان عذب لشدد
“ Kita juga kalo tidak bersyukur maka terbilang
kafir ,akan tetapi kita beriman. Kerena Allah perintahkan kita untuk bersyukur.
Orang yang tidak bersyukur adalah dzolim, Orang yang dzolim adalah orang yang tidak mempergunakan sesuatu
pada fungsinya. Dan itu artinya tidak bersyukur berarti kafir, Hanya saja tidak
menyentuh dalam ranah tauhid. Sehingga tidak tergolong murtad”. Terang beliau
dengan gamblang.
Sekian crita hari ini. Trimakasih telah
membaca......
Created by :
“Al_Fie”
Post a Comment